TikTok Jadi Medsos Terpopuler di Indonesia, Didominasi Gen Z

TikTok Jadi Medsos Terpopuler di Indonesia, Didominasi Gen Z
Media Sosial TikTok

JAKARTA – TikTok kini menempati posisi puncak sebagai aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. 

Temuan tersebut dimuat dalam laporan terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang bertajuk "Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet 2026".

Berdasarkan laporan itu, dari total 235,2 juta jiwa penduduk Indonesia yang telah terhubung dengan internet, 31,8 persen di antaranya mengakses TikTok pada tahun ini. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 35,2 persen. 

Sementara itu, posisi kedua hingga keempat ditempati secara berurutan oleh platform milik Meta, yakni Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Berbeda halnya dengan TikTok yang mengalami penurunan, persentase pengguna Facebook justru meningkat menjadi 29,4 persen dibandingkan tahun lalu yang tercatat 21,6 persen. 

Tren serupa terjadi pada Instagram yang diakses oleh 27,7 persen responden, naik dari 15,9 persen pada periode sebelumnya. Di sisi lain, WhatsApp muncul sebagai pendatang baru dalam kategori ini dengan raihan 1,7 persen.

Penurunan paling tajam dialami oleh YouTube, yakni merosot dari 27,5 persen pada 2025 menjadi 1,6 persen di tahun ini, sehingga platform milik Google tersebut kini berada di urutan keenam. 

Pada posisi ketujuh dan kedelapan, terdapat dua platform microblogging, yaitu X dengan 1,5 persen dan Threads yang menjadi pendatang baru sebesar 1,0 persen.

Dominasi Gen Z

Masih merujuk pada laporan APJII, generasi Z (kelahiran 1997-2012) tercatat paling mendominasi akses TikTok di tanah air. Gen Z memimpin dengan angka 32,3 persen, disusul oleh milenial/Gen Y (1981-1996) sebesar 31,9 persen, Gen X (1965-1980) 31,2 persen, Baby boomers (1946-1964) 30,7 persen, serta Pre-boomer (di atas 1945) 30,6 persen.

Selain TikTok, Gen Z juga cukup aktif menggunakan Instagram, yang turut menyediakan fitur video pendek Reels. Persentasenya mencapai 30,8 persen, lebih tinggi dibanding milenial (28,7 persen), Gen X (24,4 persen), Baby Boomer (20,1 persen), dan Pre-boomer (16,7 persen).

Hal kontras terlihat pada Facebook yang justru kurang diminati oleh Gen Z. Generasi milenial hingga Pre-boomer lebih aktif mengakses Facebook dengan rentang persentase 30 persen hingga 31 persen, sedangkan Gen Z hanya 26,9 persen. 

Sementara itu, untuk YouTube, X, dan Threads, tingkat aksesnya di Indonesia hanya berkisar 1 persen hingga 4 persen di seluruh kelompok usia.

Laporan APJII juga merinci bahwa durasi rata-rata penggunaan media sosial oleh masyarakat Indonesia umumnya berkisar 1-2 jam per hari, dengan persentase 44,9 persen, naik dari tahun sebelumnya sebesar 34,1 persen. 

Selanjutnya, 37,9 persen responden menghabiskan waktu 2-3 jam untuk berselancar di media sosial, meningkat dari angka 33 persen pada tahun lalu.

Kegemaran pada Konten Video Pendek

Seirama dengan popularitas TikTok, APJII menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia memang lebih banyak menikmati konten hiburan berupa video pendek daring (TikTok, Reels, YouTube Shorts). 

Persentasenya mencapai 29,5 persen. Adapun akses ke konten video panjang (seperti YouTube, Netflix, Vidio, dan lain-lain) berada pada angka 15,3 persen.

Akses ke platform hiburan lainnya, yakni musik (Spotify, Joox, Apple Music, dan YouTube Music), berada di angka 18,4 persen, masih di bawah konsumsi video pendek. 

Sementara untuk aktivitas permainan daring (game online), persentasenya tercatat 7 persen. Selain menikmati video pendek, pengguna internet Indonesia juga gemar berinteraksi dan melakukan scrolling media sosial dengan persentase 26,6 persen.

Terkait metodologi, survei ini dilaksanakan oleh APJII pada 1 Februari hingga 15 Maret 2026. Total responden yang dilibatkan berjumlah 8.700 orang yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi di Indonesia. 

Seluruh responden merupakan warga negara Indonesia dengan usia minimal 13 tahun. Dalam laporannya, APJII mengeklaim menggunakan metode wawancara tatap muka serta multistage random sampling dengan Margin of Error (MoE) sebesar ±1,1 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index