Genjot Ekspor, Sido Muncul Masuk Mainstream Outlet Arab Saudi

Genjot Ekspor, Sido Muncul Masuk Mainstream Outlet Arab Saudi
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) bergerak agresif dalam memperlebar jangkauan pasar globalnya dengan membidik jalur distribusi resmi di Arab Saudi. 

Emiten ini mulai menggeser strategi dari yang awalnya bertumpu pada toko oriental, kini merambah ke jaringan ritel serta drugstore resmi demi memperkuat penetrasi pasar.

Direktur Utama SIDO, Irwan Hidayat mengungkapkan bahwa strategi ekspor perseroan saat ini dikonsentrasikan pada penguatan mutu distribusi di negara-negara tujuan utama, sembari mengintip peluang di ceruk pasar yang baru. 

Ia menyebut wilayah Arab Saudi menjadi salah satu target prioritas saat ini. Produk-produk SIDO sebenarnya sudah lama beredar di sana, namun sebagian besar masih mengalir lewat non mainstream outlet.

"Kami sekarang lagi mau masuk ke mainstream outlet. Kalau dulu masuknya ke outlet oriental, sekarang kami daftar resmi supaya bisa masuk ke drugstore dan jaringan resmi," ujarnya, Kamis (9/7/2026).

Irwan memaparkan, permintaan terhadap produk SIDO di Arab Saudi selama ini ditopang kuat oleh warga negara Indonesia yang bekerja ataupun menjalankan ibadah di sana. 

Lewat penetrasi ke saluran distribusi resmi, manajemen berharap produknya dapat menjangkau pasar lokal secara lebih luas.

Di samping mematangkan jaringan distribusi, SIDO juga aktif menambah portofolio produk ekspornya. Apabila selama ini penjualan luar negeri didominasi oleh produk herbal unggulan Tolak Angin, kini perusahaan mulai memacu penjualan untuk kategori food supplement, kopi herbal, hingga obat topikal.

"Produk yang kita agresifkan sekarang itu food supplement, kopi, sampai obat gosok topikal," ujarnya.

Kendati demikian, Irwan tidak menampik bahwa Tolak Angin masih menjadi penyumbang omzet terbesar bagi penjualan ekspor SIDO. Produk herbal tersebut tetap menjadi penopang utama bisnis internasional perseroan. 

Namun, kontribusi sektor ekspor terhadap total pendapatan SIDO tercatat masih relatif minim, yaitu di bawah 10%. Oleh sebab itu, langkah perluasan distribusi dan diversifikasi produk di kancah internasional ini diharapkan mampu mengerek porsi penjualan ekspor dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam merespons kompetisi di industri kesehatan, Irwan menegaskan bahwa SIDO tidak menempatkan produsen farmasi sebagai rival langsung. Ia menilai industri jamu dan farmasi justru berjalan beriringan untuk saling melengkapi kebutuhan kesehatan masyarakat.

"Farmasi itu partner di bidang kesehatan. Jamu ini kan lebih sebagai food supplement. Jadi tidak ada masalah buat saya. Farmasi tetap dibutuhkan masyarakat," katanya.

Selain bergerak lebih agresif di pasar ekspor yang sudah ada, SIDO juga memilih untuk memperkokoh inovasi produk, kegiatan riset, serta ekspansi pasar ekspor sebagai amunisi utama untuk menjaga laju pertumbuhan bisnis di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan hingga pengujung 2026.

Irwan Hidayat mengutarakan, di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum pulih total, perseroan lebih menitikberatkan pada aspek efisiensi, kreativitas, serta penciptaan produk yang membawa manfaat konkret bagi konsumen. 

Ia menggarisbawahi bahwa penguatan riset menjadi prioritas fundamental SIDO. Saat ini, perusahaan telah ditunjang oleh laboratorium farmakologi yang berfungsi melakukan uji ilmiah pada ragam bahan herbal guna menguji efektivitas produk sebelum dilepas ke pasar.

"Kami ingin setiap produk yang kami luncurkan benar-benar memiliki bukti manfaat yang kuat sehingga bisa meningkatkan kepercayaan konsumen," ujarnya.

Mengenai aspek ekspansi fisik, SIDO belum memiliki agenda untuk mendirikan pabrik baru. Fasilitas produksi yang dimiliki saat ini dinilai masih sangat memadai dengan tingkat keterpakaian (utilisasi) berada di kisaran 60%. 

Alokasi investasi perusahaan bakal lebih diarahkan pada modifikasi lini produksi eksisting serta penciptaan varian produk baru dengan memanfaatkan modal internal.

"Mudah-mudahan pada akhir tahun ada sekitar tiga hingga empat produk baru. Salah satunya berada di kategori vitamin dan suplemen kesehatan," kata Irwan.

Merujuk pada laporan keuangan yang dirilis per 31 Maret 2026, realisasi pendapatan SIDO bertengger di angka Rp640,5 miar, atau menyusut sekitar 19% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp789,1 miliar. 

Koreksi pada pos pendapatan ini diklaim bukan akibat merosotnya permintaan dari konsumen akhir (end demand), melainkan sebagai imbas dari penerapan kebijakan penataan stok (inventory adjustment) di level distributor.

Irwan berpendapat persediaan barang yang terlalu tinggi di tingkat distributor berpotensi menimbulkan inefisiensi dan harga produk rusak. Akumulasi stok tersebut dipengaruhi oleh pola penjualan berjenjang dan pembelian distributor dengan harga lama pada akhir tahun 2025. 

Pergerakan permintaan pasar di level ritel sendiri dipastikan tetap kokoh bahkan mencatatkan pertumbuhan di beberapa wilayah, terutama di Pulau Jawa dan Sumatra.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index