Kredit UMKM di Bali Capai 51,26 Persen dari Total Penyaluran

Kredit UMKM di Bali Capai 51,26 Persen dari Total Penyaluran
Kepala OJK Bali Parjiman. (Foto: NET)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengamati bahwa sektor perbankan di Bali terus mendongkrak penyaluran kredit bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) demi menyokong performa serta perekonomian di daerah tersebut.

"Sebesar 51,26 persen penyaluran kredit hingga April 2026 di Bali disalurkan kepada debitur UMKM," kata Kepala OJK Bali Parjiman di Denpasar, Bali, Senin (6/7/2026).

Parjiman memaparkan bahwa pembiayaan dari bank umum serta bank perekonomian rakyat (BPR) di Bali sepanjang Januari-April 2026 menyentuh angka Rp147,64 triliun. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 9,14 persen bila disandingkan dengan periode yang sama pada 2025 yang bernilai Rp135,28 triliun.

Mayoritas dari realisasi pinjaman tersebut dialokasikan untuk sektor UMKM, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5,23 persen secara tahunan (year-on-year).

Distribusi kredit UMKM ini utamanya dipimpin oleh kategori usaha mikro yang mengambil porsi sebesar 41,84 persen, disusul oleh kategori usaha kecil yang mencapai 37,99 persen.

Pihak regulator turut memaparkan bahwa berdasarkan fungsi pemanfaatannya, kenaikan penyaluran modal ini ditopang oleh kredit investasi yang melonjak hingga Rp6,11 triliun.

Parjiman berpendapat bahwa ekspansi pinjaman pada sektor investasi memperlihatkan peran aktif industri perbankan dalam membiayai pengembangan bisnis guna memacu roda perekonomian jangka panjang di wilayah Provinsi Bali.

Sementara itu, apabila ditinjau dari kenaikan nominalnya, sektor akomodasi serta penyediaan makan minum menjadi bidang yang membukukan pertumbuhan modal paling masif, yakni sebesar Rp2,10 triliun.

"Pertumbuhan yang signifikan tersebut mencerminkan sektor pariwisata Bali yang terus menguat dan mendorong peningkatan kebutuhan pembiayaan," katanya.

Di sisi lain, perolehan dana pihak ketiga (DPK) juga memperlihatkan tren positif dengan tumbuh sebesar 6,64 persen hingga menyentuh Rp207,54 triliun, dari yang sebelumnya bernilai Rp194,63 triliun pada periode yang sama tahun 2025.

Tingkat kesehatan kredit perbankan di Pulau Dewata ini pun terpantau aman dengan rasio non performing loan (NPL) di angka 2,60 persen. Angka ini tercatat lebih rendah ketimbang posisi pada periode yang sama di tahun lalu yang sempat menyentuh 3,21 persen.

Kendati demikian, rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) terpantau masih jalan di tempat alias belum bergeser banyak, yakni berada di angka 58,30 persen, sementara pada April 2025 berada di posisi 58,43 persen.

Perolehan LDR per April 2026 ini pun dinilai masih berada di bawah target ideal yang telah ditetapkan, di mana standar ketentuannya berkisar antara rentang 78 persen sampai 92 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index