JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa China, Jepang, dan Australia menjadi tiga negara utama pemasok impor nonmigas ke Indonesia selama periode Januari hingga Mei 2026. Akumulasi dari ketiga negara tersebut menyumbang sebesar 52,69% dari keseluruhan total impor nonmigas nasional.
Berdasarkan data BPS, China masih kokoh di posisi pertama sebagai negara asal impor nonmigas terbesar bagi Indonesia sepanjang lima bulan pertama tahun 2026. Porsi impor dari Negeri Tirai Bambu ini menyentuh angka 41,83% dengan nilai total mencapai US$39,27 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menjelaskan bahwa pasokan barang dari China mayoritas berupa mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS 84) dengan nilai US$8,73 miliar.
Diikuti oleh produk mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS 85) senilai US$8,43 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) yang mencatatkan nilai US$2,33 miliar.
“Impor nonmigas dari China mencapai US$39,27 miliar, terutama didominasi oleh mesin/peralatan mekanik atau HS 84 dengan sharenya 22,24% dan tumbuh 15,20% secara C-to-C,” kata Ateng dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Rabu (1/7/2026).
Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh Jepang dengan nilai pengiriman sebesar US$5,17 miliar atau setara dengan pangsa pasar 5,51%.
Komoditas utama yang didatangkan dari Jepang didominasi oleh produk mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS 84) senilai US$1,07 miliar, besi dan baja (HS 72) senilai US$700 juta, serta kendaraan dan bagiannya (HS 87) dengan nilai US$670 juta.
Selanjutnya di urutan ketiga, nilai impor nonmigas yang berasal dari Australia menembus US$5,02 miliar. Berbeda dengan karakteristik impor dari China dan Jepang yang didominasi oleh produk mesin, pasokan dari Australia didominasi oleh logam mulia dan perhiasan atau permata (HS 71) dengan porsi mencapai 29,83%.
Nilai impor untuk kelompok komoditas ini mengalami lonjakan drastis sebesar 216,88% secara kumulatif tahunan (*cumulative-to-cumulative*/ctc). Di samping itu, Indonesia juga mendatangkan produk serealia senilai US$600 juta dan bahan bakar mineral sebesar US$560 juta dari Negeri Kanguru tersebut.
Lebih lanjut, BPS merangkum bahwa gabungan dari ketiga negara ini memegang andil sebesar 52,69% terhadap seluruh total impor nonmigas Indonesia selama lima bulan pertama di tahun ini.
“Tiga besar negara asal impor yaitu China, Jepang, dan juga Australia. Ketiga negara tersebut memberikan andil ataupun share-nya sebesar 52,69% dari total impor nonmigas Indonesia,” terangnya.
Di luar kontribusi China, Jepang, dan Australia, pasokan impor nonmigas Indonesia juga didatangkan dari wilayah ASEAN dengan pangsa pasar 14,88%, kawasan Uni Eropa sebesar 6,59%, serta gabungan negara dan wilayah lainnya yang memberikan kontribusi kumulatif sebesar 25,84% terhadap total impor nonmigas sepanjang Januari–Mei 2026.