Rupiah Lemah, Biaya Klaim Asuransi Kendaraan Asei Mulai Tertekan

Rupiah Lemah, Biaya Klaim Asuransi Kendaraan Asei Mulai Tertekan
Direktur Utama Asuransi Asei Indonesia, Dody Dalimunthe. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Asuransi Asei Indonesia melihat bahwa penurunan nilai tukar rupiah kini mulai memicu tekanan pada biaya klaim asuransi kendaraan bermotor. Kondisi ini utamanya berdampak pada kendaraan yang bergantung pada komponen impor.

Direktur Utama Asuransi Asei Indonesia, Dody Dalimunthe mengungkapkan bahwa depresiasi mata uang rupiah ini berpeluang memicu lonjakan harga suku cadang, ongkos logistik, hingga biaya jasa perbaikan di bengkel. Pada akhirnya, hal tersebut akan mendongkrak rata-rata nilai klaim (claim severity).

“Namun hingga saat ini dampaknya relatif terkendali. Tidak seluruh suku cadang mengalami kenaikan secara bersamaan dan sebagian bengkel rekanan masih memiliki persediaan suku cadang yang diperoleh sebelum terjadi pelemahan rupiah,” ujar Dody, Senin (29/6/2026).

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghimpun data bahwa perolehan premi dari lini bisnis kendaraan bermotor di sektor asuransi umum menyentuh angka Rp 7,31 triliun per April 2026, atau mengalami pertumbuhan sebesar 2,92% secara tahunan (year on year/YoY). 

Di sisi lain, total nilai klaim yang dibayarkan berada di angka Rp 2,66 triliun, yang mana angka ini juga menunjukkan kenaikan dari periode yang sama di tahun lalu.

Dody menjelaskan bahwa segmen asuransi kendaraan bermotor sebetulnya belum menjadi lini bisnis utama bagi Asei. Walakin, perseroan kini sedang giat menggodok produk asuransi ritel, yang di dalamnya turut memuat asuransi kendaraan. Ia tidak membeberkan secara detail total klaim kendaraan di internal perusahaan.

Kendati demikian, jika merujuk pada laporan keuangan resmi perusahaan, perolehan premi bruto Asei melonjak drastis mencapai Rp 460,35 miliar hingga April 2026, berbanding jauh dari posisi Rp 89,83 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya.

Bagi perusahaan asuransi dengan portofolio kendaraan yang porsinya lebih besar, ia menambahkan, gejala kenaikan biaya perbaikan sudah mulai tampak. Fenomena ini utamanya terjadi pada segmen kendaraan premium atau jenis kendaraan yang memiliki ketergantungan masif pada komponen impor. 

Meski begitu, tren kenaikan nilai klaim dipastikan masih dalam batas aman yang terkendali dan belum memicu pembengkakan drastis pada rasio klaim.

Asei memproyeksikan bahwa himpitan pada biaya klaim ini masih akan terus berjalan jika fluktuasi nilai tukar rupiah tetap tidak stabil. 

Bukan cuma perkara kurs, variabel lain seperti inflasi ongkos perbaikan, kenaikan harga komponen, hingga potensi penyesuaian tarif jasa montir di bengkel juga menjadi aspek penting yang wajib diantisipasi.

"Meski demikian, diperkirakan pertumbuhan klaim kendaraan hingga akhir tahun masih akan berada pada level yang moderat, sejalan dengan kondisi pasar otomotif domestik yang masih cenderung melambat," terangnya.

Demi memproteksi tingkat profitabilitas, Asei bakal menerapkan rentetan strategi mitigasi. 

Langkah tersebut mencakup evaluasi berkala terhadap tarif premi yang disesuaikan dengan profil risiko, mempererat kemitraan dengan jaringan bengkel rekanan, memaksimalkan sistem digitalisasi dalam proses pengajuan klaim, serta memperketat tata kelola portofolio dan seleksi risiko (underwriting).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index