JAKARTA - Menjelang pemberlakuan biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026, para pemilik mobil diesel diimbau untuk mengerti efeknya terhadap pemeliharaan kendaraan.
Walaupun B50 disebut kompatibel dengan mayoritas mesin diesel, tingginya kadar Fatty Acid Methyl Ester (FAME) menuntut atensi ekstra pada beberapa suku cadang dan rutinitas servis.
Berdasarkan penjelasan ahli otomotif Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, pengaplikasian B50 pada prinsipnya masih aman untuk dapur pacu diesel. Kendati begitu, kadar Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang melampaui formula B40 berisiko mengintervensi efisiensi kerja mesin.
“B50 bisa untuk mesin diesel. B50 artinya Fame nya lebih banyak banyak dari B40. Fame lebih banyak membuat tendensi power jadi drop mungkin sekitar 5-10 persen. Kalau emisi hampir tidak masalah,” ucapnya, Minggu (28/6/2026).
Oleh karena itu, Jayan mewanti-wanti para pengguna mobil diesel agar lebih cermat dalam merawat kendaraan, khususnya di sektor penyaluran bahan bakar.
"Mungkin pengguna harus sering-sering maintenance terutama komponen filter bahan bakar," ucapnya.
Di sisi lain, Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memaparkan bahwa secara garis besar mesin diesel masa kini mampu mengadopsi B50, namun mobil dengan mekanisme injeksi mekanis butuh pengawasan yang lebih ketat.
"Secara teknis, kendaraan diesel lama dengan injeksi mekanis memerlukan perhatian khusus," kata Yannes.
Ia menambahkan, komponen berupa selang dari karet, seal, serta gasket berisiko mengalami keausan lebih dini lantaran karakteristik B50 yang memiliki daya pelarut lebih pekat. Atas dasar tersebut, para pemilik mobil dianjurkan untuk mematuhi agenda servis berkala di bengkel resmi.
Bukan itu saja, proses distribusi beserta penyimpanan B50 di area SPBU pun wajib dipantau mutunya karena sifat biodiesel yang rentan mengikat air. Yannes turut menggarisbawahi krusialnya pemahaman bagi para mekanik maupun konsumen, terhitung tindakan mempercepat durasi penukaran filter solar pada mobil diesel model lawas.
Mengenai faedahnya, Yannes menyebutkan kalau implementasi B50 menghadirkan impresi yang kontras antara mobil diesel keluaran lama dengan tipe mutakhir.
Pada mobil komersial serta kendaraan logistik, B50 dianggap mampu mempertahankan konsistensi ketersediaan bahan bakar agar pengeluaran operasional tetap ramah di kantong, dengan catatan pemeliharaan seperti pergantian filter solar dikerjakan secara patuh.
Sedangkan bagi mobil diesel kekinian yang mengusung sistem common rail, keuntungan yang paling nyata terlihat dari menurunnya kadar emisi partikulat atau noda hitam pada asap knalpot.