TMMIN Sebut Industri Otomotif Nasional Tangguh Hadapi Tantangan

TMMIN Sebut Industri Otomotif Nasional Tangguh Hadapi Tantangan
Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mempunyai keyakinan bahwa industri otomotif beserta komponen di tanah air masih memegang daya tahan yang kokoh dalam melewati beragam tantangan, baik di kancah global maupun domestik.

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengutarakan bahwa skala pasar domestik yang luas, performa ekspor yang sanggup dipertahankan, serta besarnya peluang memperkuat orientasi ekspor menjadi modal krusial bagi industri dalam negeri untuk terus tumbuh.

Melalui pernyataan yang telah diverifikasi di Jakarta pada Senin, ia memaparkan bahwa walaupun angka penjualan otomotif mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir hingga berdampak pada industri komponen, situasi di sektor ini tetap memperlihatkan tingkat resiliensi yang memadai.

"Industri otomotif itu punya resilience yang bagus. Kita punya pasar ekspor, dan pasar domestik kita juga masih besar," ujar Bob.

Menurut pandangannya, sektor komponen saat ini tengah menghadapi tantangan tersendiri lantaran merupakan bidang yang padat modal sekaligus padat karya. Sejumlah faktor seperti peningkatan upah, biaya energi, hingga besarnya keperluan investasi dalam memodernisasi fasilitas produksi menjadi hal yang wajib diantisipasi demi menjaga daya saing.

Di sudut lain, Bob mencermati bahwa industri komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) masih memerlukan kejelasan terkait arah kebijakan dari pemerintah.

Ia menilai, bermacam insentif yang ada sekarang lebih dominan dialokasikan untuk kendaraan listrik, padahal ekosistem komponen bagi kendaraan listrik itu sendiri mayoritas posisinya masih berada di luar wilayah Indonesia.

Ia mengemukakan bahwa kepastian dalam regulasi menjadi aspek vital demi memacu para pelaku industri untuk terus menanamkan modal. Menurutnya, pembaruan aspek teknologi serta modernisasi pada fasilitas produksi merupakan hal mutlak agar industri nasional tetap kompetitif dalam persaingan global.

Bob pun membantah isu yang mengabarkan bahwa sejumlah korporasi besar di bidang komponen otomotif bakal segera memindahkan investasi mereka keluar dari Indonesia. Berdasarkan pengecekan yang dilakukan pihak pemerintah, kabar burung tersebut sama sekali tidak terbukti.

Ia menguraikan bahwa korporasi multinasional pada saat ini memang tengah melakukan evaluasi terhadap peta industri otomotif untuk beberapa tahun ke depan, termasuk mengkaji efisiensi operasional di area ASEAN.

Di dalam dinamika proses tersebut, poin daya saing, ekosistem industri, serta kebijakan regulasi pemerintah di tiap-tiap negara menjadi tolok ukur yang paling utama.

Kendati Vietnam dianggap kian memikat di mata investor lantaran laju pertumbuhan ekonomi serta kelimpahan insentif investasinya, Bob menegaskan bahwasanya Indonesia masih memegang keunggulan mutlak berupa pasar otomotif paling masif di kawasan ASEAN, lewat raihan penjualan yang mendekati satu juta unit per tahun serta volume ekspor kendaraan di kisaran 500 ribu unit.

"Sejauh ini kita diuntungkan karena market kami yang lumayan besar. Jadi sebenarnya industri otomotif itu industri yang besar dan punya resilience yang cukup baik. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan," kata Bob.

Ia mengimbuhkan bahwa kawasan Asia Tenggara telah menjelma sebagai basis manufaktur dunia, tidak terbatas bagi industri otomotif saja, melainkan juga sektor elektronik serta berbagai bidang manufaktur lainnya.

Oleh sebab itu, Indonesia dipandang oleh dirinya mempunyai kans yang lebar untuk terus memperkokoh daya saing industri otomotif nasional lewat penciptaan iklim investasi yang kondusif sekaligus penguatan orientasi ekspor.

Sebelum itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyanggah rumor terkait rencana hengkang atau pemindahan fasilitas produksi dari dua industri komponen otomotif dari Indonesia menuju Vietnam, serta menegaskan bahwa kedua korporasi tersebut masih menjalankan operasional secara normal bahkan turut menyumbang andil pada ekspor nasional.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif saat dimintai konfirmasi di Jakarta pada Selasa (23/6) menerangkan, guna merespons pemberitaan yang bergulir mengenai dugaan relokasi korporasi industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada Minggu tanggal 21 Juni 2026 menginstruksikan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Dirjen ILMATE) untuk menelusuri validitas kabar pemindahan produksi PT. S dan PT.J sekaligus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di dua industri tersebut.

“Pada hari Minggu sore tanggal 21 Juni 2026, Bapak Menteri Perindustrian telah memerintahkan Dirjen ILMATE untuk menelusuri kebenaran informasi relokasi perusahaan industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam. Mempertimbangkan kehati-hatian dan sensitifitas isu ini bagi industri dan investasi asing pada sektor industri otomotif Indonesia, maka pada hari ini kami menyampaikan temuan lapangannya pada publik,” kata dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index