JAKARTA – Seorang juru masak yang sempat memiliki bobot tubuh menyentuh angka 227 kilogram membagikan cerita perubahannya setelah mampu memangkas lebih dari 143 kilogram dalam kurun waktu tiga tahun.
Langkah awal dari proses panjang ini diawali lewat ketetapan untuk membenahi menu makanan bulanan dan melepaskan keterikatan pada pola makan lama yang mulanya amat susah dihilangkan.
Pengalaman berharga ini dijalani oleh Gary Biser (40), seorang chef eksekutif korporasi yang tinggal di Saint Petersburg, Florida, Amerika Serikat.
Melalui sesi wawancara yang dirilis oleh Men's Health (27/6/2026), Gary menyampaikan jika berat tubuhnya dahulu sempat berada di angka kisaran 500 pon atau setara 227 kilogram. Pada masa itu, dia pun mesti menghadapi bermacam kendala medis, mulai dari gejala pradiabetes hingga masalah tidur yang tergolong parah.
Jalan berliku Gary dalam mengontrol bobot badannya ternyata telah terjadi selama hampir seumur hidupnya. Dia menilai, akar permasalahannya bukan cuma perkara hidangan semata, melainkan ada faktor psikologis masa kecil yang belum beres sepenuhnya.
Dia melewati masa pertumbuhan di tengah situasi perceraian orang tua yang berjalan pelik, di mana momen makan bersama menjadi satu-satunya ruang yang membuatnya merasa terlindungi.
"Dapur dan makanan di atas meja menjadi tempat aman bagi saya," kata Gary.
Seiring berjalannya waktu, asupan makanan menjadi tameng untuk meredakan rasa cemas, situasi yang tidak pasti, serta krisis rasa percaya diri yang kian menumpuk.
Di hadapan orang lain, dia selalu berusaha menampilkan impresi ceria dan penuh keyakinan. Akan tetapi di lubuk hatinya, Gary mengakui jika dirinya membenci figur yang terpantul di cermin.
Menginjak usia 35 tahun, kondisi fisiknya kian merosot. Rasa nyeri di area kaki dan punggung menyiksanya hampir setiap hari. Tubuhnya pun konstan merasa kelelahan walaupun waktu tidurnya sudah tercukupi. Problem lain yang juga menghampiri adalah hilangnya kendali pada fungsi kantung kemih.
Usai melakukan pemeriksaan medis, Gary divonis menderita pradiabetes. Hasil uji kualitas tidur yang dia lakukan pun memperlihatkan indikator yang mengkhawatirkan, di mana dalam durasi delapan jam terlelap, napasnya sempat terhenti sampai 118 kali dalam tiap jam.
Sang dokter lantas melayangkan sebuah peringatan keras yang terus tertanam di benaknya. Gary berujar bahwa dokter mengibaratkan situasinya mirip seperti "sedang sekarat setiap kali tidur" dan memberikan saran agar dia memeluk buah hatinya lebih lama lantaran tidak ada kepastian dia bisa terbangun lagi esok pagi.
Sebagai seorang ayah, wejangan mendalam tersebut bertransformasi menjadi momentum krusial yang memantapkan niatnya untuk membenahi diri.
Berpedoman pada saran dokter, Gary pun menempuh tindakan bedah bariatrik minim invasif berjenis duodenal switch pada tanggal 14 Desember 2022. Kendati demikian, sebelum meja operasi disiapkan, dia diwajibkan menerapkan pembatasan makan yang ketat selama dua pekan.
Bagi Gary, fase transisi terbesar justru dirasakan pasca-operasi. Mulanya dia mengira intervensi medis itu otomatis menuntaskan segala problematikanya. Namun, dia perlahan paham bahwa pola pikir lamanyalah yang sebenarnya menjadi musuh terbesar.
Dia pun mulai menakar secara presisi tiap porsi hidangan yang masuk ke mulut serta mematuhi segala petunjuk gizi dari tim medis. Sesudah melewati tahapan konsumsi makanan bertekstur lembut, Gary berpindah ke menu makanan yang rendah karbohidrat namun kaya akan protein.
"Tiga tahun kemudian, saya belum menyentuh gula rafinasi maupun minuman bersoda," ujarnya.
Dia bahkan kini memegang teguh sebuah prinsip baru di dalam jalan hidupnya.
"Tidak ada cheeseburger yang rasanya lebih enak daripada perasaan dan kondisi tubuh saya sekarang."
Di samping membenahi asupan nutrisi, Gary turut merintis jadwal olahraga secara bertingkat. Dia membiasakan diri melangkah ke pusat kebugaran di waktu dini hari dan pelan-pelan menaikkan beban olahraganya. Saat ini, dia rutin melatih fisik sekitar satu setengah jam per hari dengan frekuensi enam hari dalam seminggu.
Perpaduan komitmen kuat dalam menjaga pola makan serta rutinitas gerak fisik tersebut membuahkan hasil berupa penyusutan berat badan sampai 315 pon atau berkisar 143 kilogram.
Walau demikian, bagi Gary, capaian paling bermakna bukanlah angka yang tertera di alat timbang. Derajat kesehatannya membaik, kualitas tidurnya jauh lebih berkualitas, dan dia berhasil memulihkan rasa percaya dirinya.
"Saya tidak hanya mengenali pria yang ada di cermin sekarang, tetapi juga menghormatinya. Saya mencintainya," kata Gary.
Dia meyakini tekad paling berat dalam misi mereduksi berat badan bukan tentang menundukkan aspek fisik, melainkan mengondisikan cara berpikir.
Menurut Gary, sewaktu seseorang sanggup merombak cara pandangnya, maka kondisi fisik pun akan menyesuaikan, dan pada akhirnya konsistensi menjadi gerbang menuju kemerdekaan dari kebiasaan-kebiasaan lama buruk yang merusak raga.