JAKARTA – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) kini telah meluas melampaui sekadar sarana pembuat gambar atau alat bantu tugas harian. Berdasarkan survei terkini, generasi muda dan anak-anak terpantau aktif memakai AI dalam menemukan solusi atas aneka problema, mulai dari urusan sekolah, kesehatan, hingga persoalan personal.
Melansir data Common Sense Media via Los Angeles Times (23/6/2026), tercatat hampir 9 dari 10 anak pada rentang umur 9 sampai 17 tahun sudah berinteraksi dengan teknologi AI. Uniknya, sebagian di antara mereka memprioritaskan bertanya ke chatbot AI ketimbang mendiskusikannya dengan orang tua, guru, ataupun konselor.
Riset yang melibatkan 1.204 anak di Amerika Serikat ini menegaskan bahwa AI sudah menyatu dalam rutinitas harian anak muda, di mana seperempat dari total responden mengoperasikannya setiap hari.
Selain untuk hiburan dan tugas sekolah, anak-anak juga mengandalkannya untuk menggali informasi seputar kesehatan fisik serta panduan keputusan masa depan. Bahkan, hampir 25 persen responden lebih suka mengecek tugas sekolah mereka ke AI sebelum mendatangi guru atau orang tua.
Mengenai hal ini, salah seorang peserta menyampaikan kemudahan yang didapat.
"Anda bisa memanfaatkan AI untuk mengerjakan semua tugas sekolah dan menggunakan beberapa AI sekaligus agar hasilnya terlihat dibuat sendiri," kata salah satu peserta survei.
Fenomena ini tidak berhenti pada aspek edukasi, melainkan merambah ke ranah emosional. Laporan tersebut membeberkan sekitar 10 persen anak merasa AI kadang kala mampu memahami posisi mereka lebih baik daripada orang di sekitarnya. Angka tersebut melonjak jadi 19 persen bagi pengguna harian.
Indikasi dari peneliti menunjukkan bahwa anak-anak yang kesepian dan kesulitan berinteraksi sosial cenderung memakai chatbot untuk melatih kecakapan sosial serta mencurahkan isi hati mereka.
Kendati Common Sense Media menjabarkan bahwa AI menunjang remaja untuk berkreasi dan berinteraksi, para ahli tetap memberikan catatan merah mengenai potensi ketergantungan. Ada sekitar 20 persen anak yang merasa bakal kesulitan jika diminta menjauh dari AI selama satu bulan, dan persentasenya meroket ke 42 persen pada pengguna harian.
Kedekatan yang intens ini memicu kekhawatiran, terutama bagi anak yang terindikasi kurang bahagia. Ada risiko di mana ketergantungan kronis pada AI justru memotong peluang mereka dalam membangun mekanisme pertahanan diri yang natural di dunia nyata.
"Penggunaan yang lebih berat terhadap alat ini berkaitan dengan rasa kesepian dan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah pada anak muda," tulis laporan tersebut.
Ironisnya, pemahaman mengenai keamanan digital ini masih minim. Hampir separuh dari responden mengaku belum pernah mengobrolkan keamanan AI bersama guru atau orang tua mereka.
Ditambah lagi, hanya sepertiga anak yang sadar bahwa chatbot bisa menghasilkan misinformasi. Ketika sistem menampilkan konten yang tidak layak, mayoritas anak juga memilih bungkam dan tidak mengadukannya ke orang dewasa.
Realitas ini menegaskan perlunya edukasi berkala mengenai pemakaian AI yang sehat di lingkup sekolah maupun domestik.