JAKARTA - Harga minyak mentah di pasar global mengalami kemerosotan yang signifikan hingga hampir 11 persen sepanjang minggu ini.
Komoditas minyak mentah acuan Brent terpangkas sebesar 10,86 persen, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) merosot 9,62 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada pekan sebelumnya.
Pada sesi transaksi hari Jumat (26/6/2026), nilai minyak dunia juga terpantau melemah di atas 3 persen. Kontrak Brent menyentuh posisi akhir di angka 71,99 dollar AS per barrel, setelah terkoreksi 3,27 dollar AS atau setara 4,34 persen.
Di sisi lain, WTI menyudahi perdagangan pada level 69,23 dollar AS per barrel, atau menyusut 2,69 dollar AS yang setara dengan 3,74 persen.
Kemunduran nilai jual ini terjadi sejalan dengan berkurangnya kecemasan para pelaku pasar terkait potensi hambatan suplai minyak dari wilayah Timur Tengah.
Mobilitas kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan mulai berangsur normal pasca disepakatinya gencatan senjata untuk jangka waktu 60 hari.
Seorang analis senior dari Price Futures Group, Phil Flynn, mengemukakan bahwa pasar saat ini kian optimistis bahwa proses distribusi komoditas melalui Selat Hormuz bakal berjalan tanpa kendala.
"Ada keyakinan yang semakin kuat bahwa minyak akan terus mengalir melalui Selat Hormuz," ujar Flynn dikutip dari Reuters, Minggu (28/6/2026).
Dia berpendapat, kekhawatiran atas tersendatnya distribusi minyak yang sebelumnya sempat mengatrol harga sekarang sudah mulai surut. Pasar pun diprediksi akan menerima limpahan pasokan komoditas tersebut.
Senada dengan itu, analis dari PVM, Tamas Varga, turut melihat situasi serupa. Menurut pandangannya, atensi para pelaku pasar saat ini justru mengarah pada risiko surplus pasokan minyak di tingkat global.
"Pandangan yang dominan saat ini tampaknya adalah bahwa pasar akan segera menghadapi kelebihan pasokan," ujar Varga.
Sementara itu, June Goh yang merupakan analis pasar minyak di Sparta Commodities, memandang bahwa kejatuhan harga komoditas ini distimulasi oleh pertambahan volume kapal tanker yang berlayar keluar dari Selat Hormuz.
Kondisi ini diperparah oleh tingkat penyerapan minyak dari China yang dinilai belum memperlihatkan tanda-tanda pemulihan.
"Terjadi aksi jual secara luas karena pasar bereaksi terhadap meningkatnya arus kapal yang keluar dari Selat Hormuz, sementara China juga belum meningkatkan permintaan minyak mentahnya," kata Goh.
Sentimen tersebut pada akhirnya mampu meredam kekhawatiran para pelaku pasar yang sempat muncul setelah sebuah kapal kargo dilaporkan terhantam proyektil misterius di kawasan dekat Oman pada Kamis (25/6/2026).
Peristiwa tersebut sebelumnya sempat memicu harga Brent dan WTI terangkat hingga di atas 2 persen pada sesi perdagangan hari Kamis itu.
Di sudut lain, data aktivitas pelayaran memperlihatkan bahwa volume ekspor minyak melalui jalur Selat Hormuz pada minggu ini sukses menyentuh level tertinggi sejak tensi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mulai memanas pada akhir Februari 2026 lalu.
Kendati demikian, volume lalu lintas armada kapal di koridor tersebut secara umum masih berada di bawah angka rata-rata harian sebelum terjadinya konflik.
Faktor tambahan yang tidak luput dari perhatian para pelaku pasar adalah beroperasinya kembali proses pemuatan minyak di fasilitas terminal Ras Tanura kepunyaan Saudi Aramco, setelah sempat mengalami pembekuan aktivitas selama hampir empat bulan.