Kenali 5 Tanda Hubungan Codependent Menurut Psikolog

Kenali 5 Tanda Hubungan Codependent Menurut Psikolog
Ilustrasi - Hubungan asmara. (Foto: NET)

JAKARTA - Hubungan asmara yang sehat idealnya memberikan kedekatan emosional sekaligus ruang bagi tiap individu untuk tetap berkembang. Namun, terkadang rasa cinta dapat berubah menjadi ketergantungan berlebih yang mengikis kemandirian seseorang. 

Para ahli psikologi mengategorikan fenomena ini sebagai hubungan codependent, yaitu sebuah situasi ketika salah satu atau kedua belah pihak terlampau menggantungkan diri pada pasangannya demi memperoleh rasa aman, pengakuan, dan kebahagiaan. 

Sering kali kondisi tersebut tampak seperti hubungan yang kompak dan harmonis, padahal dalam jangka panjang dapat menyumbat perkembangan kepribadian masing-masing.

Berikut adalah 5 tanda hubungan codependent yang mesti diwaspadai:

1. Sulit Menikmati Waktu Tanpa Pasangan

Merindukan belahan jiwa adalah hal yang lumrah. Akan tetapi, apabila Anda didera rasa cemas, gelisah, atau sama sekali tidak mampu menikmati kegiatan apa pun sewaktu pasangan sedang tidak berada di sisi Anda, hal ini bisa menjadi indikator adanya ketergantungan yang berlebihan.

Seorang psikolog klinis bernama Maggie Dancel memaparkan bahwa hubungan romantis sejatinya hanyalah satu bagian dari dinamika kehidupan seseorang.

"Dalam hubungan yang sehat, setiap orang memahami pentingnya memelihara kehidupannya sendiri, seperti menghabiskan waktu dengan teman atau menjalani hobi yang disukai," kata Dancel, seperti dilansir SELF Magazine, Kamis (25/6/2026).

Apabila kekasih menjadi satu-satunya poros kebahagiaan, seseorang rawan kehilangan identitas serta ranah privasinya.

2. Merasa Bertanggung Jawab atas Kebahagiaan Pasangan

Gejala lain dari ikatan codependent ialah munculnya perasaan wajib untuk senantiasa menyenangkan pasangan. Ketika sang kekasih sedang bermuram durja, Anda mungkin merasa bertanggung jawab penuh untuk memulihkan suasana hatinya dengan segala cara, sekalipun mesti mengorbankan keperluan pribadi.

Menurut psikolog Sabrina Romanoff, keterikatan emosional yang berlebih membuat kondisi psikologis seseorang sangat disetir oleh suasana hati pasangannya.

"Ketika pasangan bahagia, kamu merasa aman. Namun ketika mereka tidak bahagia, dunia kamu bisa terasa ikut berantakan," ujarnya.

Padahal dalam jalinan kasih yang sehat, sepasang kekasih memang saling memberikan dukungan, namun tidak memikul tanggung jawab mutlak atas emosi satu sama lain.

3. Kepercayaan Diri Bergantung pada Validasi Pasangan

Apakah Anda lekas merasa tidak dipedulikan saat pesan singkat tidak kunjung dibalas dengan cepat? Atau memandang pencapaian diri sendiri tidak bernilai bila pasangan tidak melayangkan pujian?

Romanoff menjelaskan bahwa situasi semacam itu menandakan bahwa harga diri seseorang telah terlampau bersandar pada penilaian pasangannya. 

Imbasnya, ia akan terus-menerus memburu pembuktian bahwa dirinya disayangi dan diapresiasi. Bagaimanapun, rasa percaya diri yang kokoh semestinya tidak digantungkan pada reaksi, atensi, ataupun persetujuan orang lain di setiap waktu.

4. Takut Menetapkan Batasan dalam Hubungan

Sikap kompromi memang teramat krusial dalam sebuah hubungan. Namun, jika Anda selalu memilih mengalah lantaran takut pasangan bakal kecewa atau pergi meninggalkan Anda, hal tersebut bisa menjadi sinyal kuat dari codependency.

Contohnya, Anda rela terus mengikuti aktivitas yang tidak disukai sekadar untuk menyenangkan hati pasangan, atau memilih memendam kekesalan saat merasa risi terhadap suatu perilaku mereka. 

Romanoff mengingatkan bahwa tindakan yang terus-menerus mengabaikan batasan personal dapat mengakibatkan seseorang merasa letih, terabaikan, hingga kehilangan jati diri di dalam hubungan tersebut.

5. Selalu Meminta Persetujuan untuk Keputusan Kecil

Bertukar pikiran atau meminta masukan dari pasangan sesekali adalah hal yang wajar. Namun, jika Anda sampai tidak sanggup menetapkan pilihan-pilihan sederhana tanpa persetujuan dari mereka, boleh jadi Anda sudah terlalu bergantung secara emosional.

Mulai dari urusan menyortir pakaian, menetapkan agenda akhir pekan, hingga menentukan opsi sepele sehari-hari, seluruhnya wajib mengantongi izin dari pasangan. Dancel menyebutkan bahwa fenomena ini memperlihatkan bahwa seseorang mulai kehilangan kecakapan untuk memercayai penilaian pribadinya. 

Tatkala hubungan berubah menjadi wadah untuk memohon izin dalam menjalani hidup, bukan lagi sekadar area untuk berbagi kehidupan, maka kadar ketergantungan emosional tampaknya sudah berjalan terlampau jauh.

Hubungan yang selaras bukanlah tentang keharusan untuk selalu bersama di setiap waktu, melainkan kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri sembari merajut kedekatan bersama pasangan. 

Merawat keseimbangan antara rasa cinta dan kemandirian menjadi aspek kunci supaya hubungan asmara dapat bertahan secara sehat dalam jangka panjang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index