JAKARTA - Anda mungkin sudah sering mendengar tentang betapa krusialnya vitamin C untuk menjaga imunitas tubuh dari serangan penyakit.
Namun, apakah Anda tahu bahwa vitamin C juga menyimpan manfaat luar biasa dalam memelihara kesehatan kognitif? Merujuk pada Prevention, Selasa (23/6/2026), sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One pada Juni 2026 dengan tajuk "Plasma vitamin C levels are associated with brain structural networks on MRI: A large cohort study", telah berhasil membuktikan fakta menarik tersebut.
Melalui analisis sampel darah dan pemindaian MRI dari 2.044 orang dewasa yang lebih tua, tim peneliti mengamati pola yang konsisten. Mereka menemukan, peserta dengan kadar vitamin C tinggi di dalam darah cenderung memiliki struktur otak yang tampak lebih sehat.
Perlu digarisbawahi bahwa penelitian tersebut sebatas memperlihatkan adanya korelasi positif, bukan membuktikan bahwa vitamin C secara langsung menyebabkan peningkatan fungsi otak.
Temuan tersebut merujuk pada volume materi abu-abu (gray matter) yang lebih besar dan tingkat konektivitas yang lebih baik pada jaringan mode default. Hubungan kuat ini tetap bertahan bahkan setelah tim peneliti menyesuaikan data dengan faktor eksternal lainnya seperti usia, jenis kelamin, riwayat merokok, hingga kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Ahli saraf integratif bersertifikat dan penasihat dokter untuk 1MD Nutrition, Alexander Y. Zubkov, M.D., Ph.D, menerangkan bahwa materi abu-abu adalah bagian otak yang melakukan sebagian besar pekerjaan berpikir.
"Materi ini menyimpan badan sel saraf dan koneksi yang mendukung memori, perhatian, bahasa, dan pengambilan keputusan," jelas dia.
Memiliki lebih banyak materi abu-abu, disesuaikan dengan ukuran kepala, merupakan salah satu tanda otak yang lebih terpelihara dan tangguh.
Seiring berjalannya waktu, hilangnya materi abu-abu dikaitkan dengan penuaan, faktor risiko stroke, depresi, dan penyakit seperti Alzheimer.
"Jadi, ketika kami melihat faktor-faktor yang terkait dengan lebih banyak materi abu-abu, kami menganggapnya sebagai dukungan potensial untuk kesehatan otak jangka panjang," ucap dr. Zubkov.
Selain indikasi volume materi abu-abu yang lebih padat, peneliti menyoroti temuan lain terkait peningkatan konektivitas jaringan mode default pada peserta dengan kadar asupan yang memadai.
Pendiri The Balanced Dietitian sekaligus konsultan untuk Live Conscious Nutrition, Amy Davis, R.D., L.D.N., menjelaskan bahwa jaringan krusial ini memiliki peranan besar dalam pengolahan memori dan pengaturan stabilitas emosi harian manusia.
Asam askorbat sangat berkhasiat membantu otak dalam menciptakan zat penghantar saraf (neurotransmiter), serta menjaga selaput sel tetap sehat.
Dokter Zubkov melabeli kandungan ini sebagai "antioksidan utama untuk otak", yang berarti sangat efektif membantu sel-sel tersebut bertahan dari keausan maupun kerusakan alami dari waktu ke waktu.
"Sel-sel sangat aktif dan menghasilkan banyak produk sampingan yang dapat merusak sel jika tidak dibersihkan, dan vitamin C membantu menetralkannya," ucap dia.
Tubuh manusia secara mandiri memusatkan nutrisi ini di kepala dan menyimpannya dalam kadar yang melampaui rata-rata jumlah di dalam darah.
Jika ingin mendapatkan perlindungan menyeluruh, mengonsumsi suplemen bukan satu-satunya jalan keluar ideal. Dokter Zubkov menyebutkan, merujuk pada riset terdahulu, produk suplementasi nyatanya hanya mampu memberikan dampak sedang dengan hasil yang kerap kali bertolak belakang.
Oleh karena itu, menerapkan pola makan seimbang yang kaya akan gizi alami dinilai memiliki peluang yang jauh lebih menjanjikan untuk menghasilkan efek perlindungan maksimal.
Demi memenuhi kebutuhan ini, Davis menyarankan untuk secara rutin melengkapi piring dengan beraneka ragam pilihan alami. Beberapa opsi segar yang bisa dimasukkan ke menu harian meliputi jeruk, jambu biji, paprika, stroberi, serta aneka sayuran berdaun hijau.
Namun, asupan bergizi seimbang dan kaya warna juga perlu diimbangi dengan komitmen gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga, menjaga kualitas tidur, cerdas mengelola stres, dan konsisten memantau tekanan darah.