Sering Dianggap Garing, Dad Jokes Punya Manfaat Positif Bagi Otak

Sering Dianggap Garing, Dad Jokes Punya Manfaat Positif Bagi Otak
Ilustrasi - Lelucon Bapak-Bapak. (Foto: NET)

JAKARTA – Lelucon khas bapak-bapak atau dad jokes yang kerap dianggap garing nyatanya bisa memberi manfaat bagi kesehatan otak, merujuk pada sebuah studi terkini yang dimuat di PsyArXiv.

Penelitian yang terbit di PsyArXiv, repositori pracetak akses terbuka untuk kajian psikologi tersebut, menyatakan bahwa dad jokes mempunyai karakteristik unik dari segi isi, struktur, serta teknik komedi yang dipakai, seperti dilaporkan New York Post, Senin (22/6/2026).

Dalam kajiannya, psikolog Paul J. Silvia (University of North Carolina at Greensboro) dan Meriel I. Burnett (University of Massachusetts Amherst) mendapati bahwa lelucon ala bapak-bapak sangat mengandalkan permainan kata serta plesetan.

Para peneliti menilai, berbeda dengan komedi kompleks yang menuntut konteks khusus, lelucon khas bapak-bapak memiliki struktur sederhana dan gampang ditebak sehingga dapat dinikmati berbagai kelompok usia, sekaligus menciptakan celah untuk berbagi tawa lintas generasi.

Tertawa diketahui mampu mengubah kimia tubuh dengan menurunkan hormon stres seperti epinefrin serta kortisol, sembari meningkatkan senyawa kimia terkait perasaan bahagia seperti serotonin, dopamin, dan endorfin. 

Sebuah tinjauan riset tahun 2023 yang terbit di PLOS One mendapati bahwa satu sesi tertawa saja bisa menurunkan kadar kortisol lebih dari 36 persen. Penurunan stres ini mengaktifkan area otak seperti korteks prefrontal, yang membantu otak memproses ide-ide kompleks.

Berbagai riset juga mengaitkan kecakapan memahami permainan kata dengan kreativitas berpikir, kemampuan verbal, dan kemampuan menghubungkan berbagai makna berbeda. 

Misalnya, menyaksikan anak-anak tertawa mencerminkan kecemerlangan otak yang tengah bekerja, yakni belajar, membangun hubungan, serta berkembang, tutur pakar perkembangan anak usia dini dari Middlesex University, Jacqueline Harding.

Di dalam bukunya berjudul The Brain That Loves to Laugh, Harding menjelaskan bahwa kegembiraan adalah fenomena biologis kompleks yang membantu anak-anak menghadapi stres serta membangun pola pikir yang lebih tangguh dan terbuka terhadap pembelajaran.

“Harapan dan humor tampaknya bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan bagian mendasar dari resep perkembangan yang sehat,” tulisnya.

Manfaat tertawa turut dirasakan dalam hubungan keluarga. Berbagi tawa bisa meningkatkan produksi oksitosin, hormon yang dikenal mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak. 

Tertawa bersama juga mendorong proses yang oleh psikolog disebut sebagai co-regulation, yaitu kemampuan mengelola emosi secara bersama-sama melalui interaksi sosial yang positif. 

Proses ini membantu individu mengendalikan stres dengan memanfaatkan rasa aman dan pengalaman positif yang dibangun bersama.

Menurut Harding, permainan yang menyenangkan dan kreatif bekerja paling efektif pada tingkat molekuler, khususnya ketika otak manusia berada dalam kondisi paling reseptif terhadap perkembangan dan pembelajaran.

“Permainan spontan yang penuh kegembiraan merupakan penawar stres karena meningkatkan kadar endorfin yang dilepaskan oleh otak,” kata Harding.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index