JAKARTA - Pergerakan pasar modal kembali diwarnai langkah strategis emiten energi dalam menjaga stabilitas sahamnya.
PT RMK Energy Tbk mengambil inisiatif korporasi untuk mendukung likuiditas harga saham di bursa. Langkah ini dilakukan melalui rencana pembelian kembali saham yang dinilai mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Kebijakan pembelian kembali saham tersebut dirancang untuk memberikan sinyal positif kepada investor. Manajemen menilai kondisi fundamental perseroan cukup kuat untuk menopang aksi korporasi ini. Dengan pendekatan tersebut, RMKE berharap dapat menjaga kepercayaan pasar secara berkelanjutan.
Rencana buyback juga dipandang sebagai bagian dari strategi jangka menengah perusahaan. Fokus utama tetap pada pertumbuhan usaha dan penguatan struktur keuangan. Dalam konteks ini, buyback menjadi instrumen pendukung stabilitas pasar saham.
Skema Buyback Saham RMKE
Perseroan merencanakan pembelian kembali saham RMKE yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Buyback akan dilakukan secara bertahap maupun sekaligus sesuai kondisi pasar. Jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melebihi dua puluh persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Pelaksanaan buyback dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan. Periode tersebut dimulai sejak penyampaian keterbukaan informasi hingga awal Mei 2026. Selama periode itu, perseroan memiliki fleksibilitas dalam menentukan waktu eksekusi.
Untuk mendukung aksi tersebut, perseroan menyiapkan dana sebesar Rp200 miliar. Dana buyback sepenuhnya bersumber dari kas internal perusahaan. Penggunaan kas ini dinilai tidak mengganggu operasional perseroan.
Ketentuan Harga dan Mekanisme Pelaksanaan
Buyback saham RMKE akan dilakukan pada harga yang lebih rendah atau sama dengan harga transaksi sebelumnya. Ketentuan ini mengikuti regulasi yang berlaku di pasar modal. Dengan mekanisme tersebut, perseroan tetap mematuhi prinsip kehati-hatian.
Manajemen akan menunjuk salah satu perusahaan Anggota Bursa untuk mengeksekusi buyback. Penunjukan ini bertujuan memastikan pelaksanaan berjalan sesuai aturan. Proses tersebut juga diharapkan berlangsung transparan dan efisien.
Langkah teknis ini menjadi bagian penting dalam implementasi aksi korporasi. Dengan dukungan pihak profesional, perseroan mengoptimalkan proses pembelian kembali. Hal ini sekaligus menjaga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Dampak Terhadap Operasional dan Keuangan
Manajemen berpandangan pembelian kembali saham tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional. Posisi arus kas perseroan saat ini dinilai cukup kuat. Kondisi tersebut memungkinkan perusahaan menjalankan operasional sekaligus buyback.
Selain itu, buyback tidak mempengaruhi kemampuan perseroan dalam memenuhi kewajiban keuangan. Manajemen memastikan seluruh kewajiban tetap dapat dipenuhi tepat waktu. Hal ini penting untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan.
Kelangsungan usaha perseroan juga dinilai tetap terjaga. Tidak ada dampak negatif jangka panjang dari pelaksanaan buyback ini. Dengan demikian, stabilitas bisnis tetap menjadi prioritas utama.
Proyeksi Kinerja dan Pertumbuhan Laba
RMK Energy memproyeksikan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada 2026. Laba bersih diperkirakan mencapai sekitar Rp800 miliar. Angka tersebut mencerminkan kenaikan empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Manajemen menyampaikan optimisme terhadap prospek pertumbuhan tersebut. Strategi bisnis yang agresif menjadi kunci pencapaian target. Perusahaan melihat peluang pasar yang masih sangat terbuka.
Proyeksi ini juga menjadi dasar keyakinan manajemen dalam melakukan buyback. Pertumbuhan laba diharapkan memperkuat fundamental perseroan. Dengan demikian, nilai perusahaan dapat terus meningkat.
Dukungan Regulasi dan Kontrak Baru
Kebijakan larangan angkutan batu bara menggunakan jalan umum di Sumatra Selatan menjadi katalis positif. Aturan tersebut mendorong percepatan pembangunan jalan khusus pertambangan. Kondisi ini mengubah peta logistik batu bara di wilayah tersebut.
Sebelumnya, banyak akses tambang masih melewati jalan umum. Dengan regulasi baru, sejumlah fasilitas tambang terpaksa berhenti sementara. Namun RMKE telah memiliki jalan khusus sehingga tetap dapat menyalurkan produksi.
Kinerja perseroan juga diperkuat oleh kontrak-kontrak baru. Pada 2026, RMK Energy menjalin kerja sama dengan WSL dan DBU. Skema kerja sama mencakup jasa logistik jangka panjang serta pembelian sebagian produksi batubara mitra dengan harga diskon.