Nilai Tukar Rupiah

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada Perdagangan Senin 2 Februari 2026

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada Perdagangan Senin 2 Februari 2026
Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada Perdagangan Senin 2 Februari 2026

JAKARTA - Perdagangan awal pekan kembali diwarnai ketidakpastian pasar keuangan global yang turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. 

Pada Senin, 2 Februari 2026, rupiah menghadapi tekanan dari menguatnya dolar Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya sentimen global yang mendorong investor kembali ke aset aman. Fluktuasi yang terjadi sepanjang sesi perdagangan menunjukkan bahwa pasar masih mencermati berbagai faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi stabilitas nilai tukar.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah sebesar 30,50 poin atau sekitar 0,18% ke level Rp16.785,5 per dolar AS. Pergerakan tersebut menempatkan rupiah dalam kisaran perdagangan Rp16.780 hingga Rp16.810 per dolar AS, sesuai dengan proyeksi pelaku pasar yang menilai tekanan masih akan berlanjut hingga akhir sesi.

Indeks Dolar AS Menguat, Mata Uang Asia Bergerak Variatif

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani rupiah. Indeks dolar AS pada perdagangan hari ini tercatat naik 0,17% ke posisi 96,44. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Sementara itu, pergerakan mata uang Asia menunjukkan variasi yang cukup lebar. Yen Jepang terdepresiasi sebesar 0,44%, diikuti won Korea Selatan yang melemah 0,46% terhadap dolar AS. Di sisi lain, ringgit Malaysia dan yuan China justru mampu menguat masing-masing sebesar 0,5% terhadap dolar AS. Perbedaan arah pergerakan ini mencerminkan respons pasar yang beragam terhadap kondisi global serta kebijakan ekonomi masing-masing negara.

Isu Nominasi Ketua The Fed Dorong Dolar AS

Direktur PT Trave Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan dolar AS tidak terlepas dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan akan segera mengumumkan nominasi Ketua Federal Reserve (The Fed). Salah satu nama yang mencuat sebagai kandidat kuat adalah mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh.

“Potensi nominasi Warsh muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar atas independensi Fed, menyusul seruan berulang dari Trump agar bank sentral memangkas suku bunga secara tajam,” ujar Ibrahim.

Pasar menilai bahwa figur yang lebih sejalan dengan agenda pemangkasan suku bunga agresif berpotensi mengubah arah kebijakan moneter AS. Ketidakpastian ini mendorong investor bersikap hati-hati dan memilih mengalihkan dana ke dolar AS sebagai langkah pengamanan portofolio.

Ketegangan Geopolitik Perkuat Aset Safe Haven

Selain faktor kebijakan moneter, sentimen global juga dibayangi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik. Ancaman serangan Amerika Serikat terhadap Iran terkait isu senjata nuklir turut memicu kekhawatiran pasar. Situasi ini meningkatkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu pusat perhatian investor global.

Ketegangan tersebut mendorong pelaku pasar kembali memburu aset-aset safe haven, termasuk dolar AS. Aliran dana ke aset aman ini secara tidak langsung memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah menjadi lebih terbatas di tengah sentimen global yang belum kondusif.

Peran Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) terus memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar. BI memperkuat pengelolaan cadangan devisa sebagai instrumen utama untuk meredam volatilitas rupiah akibat dinamika global, termasuk pergerakan suku bunga dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Ibrahim menilai bahwa langkah BI tersebut menjadi krusial di tengah tekanan eksternal yang meningkat. Menurutnya, bank sentral tidak hanya berfokus pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga memperkuat bauran kebijakan yang mencakup aspek moneter dan makroprudensial.

“BI memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” lanjut Ibrahim.

Lebih jauh, BI juga dinilai tengah mendorong percepatan digitalisasi ekonomi sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Penguatan cadangan devisa tidak hanya difungsikan sebagai bantalan krisis, tetapi juga diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi nasional agar lebih adaptif terhadap perubahan global.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah pada Senin, 2 Februari 2026 mencerminkan kombinasi tekanan global dan upaya stabilisasi domestik. Dengan sentimen eksternal yang masih dominan, pelaku pasar diperkirakan akan tetap mencermati perkembangan kebijakan moneter AS, dinamika geopolitik, serta langkah-langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas pasar keuangan internasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index