JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) memastikan bahwa proses pengembangan Stasiun Gambir dilakukan secara bertahap demi menata sistem transportasi publik di area pusat Jakarta.
Penjelasan ini disampaikan oleh Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin bersama jajaran Direksi, termasuk Direktur Keuangan dan Umum KAI Indarto Pamoengkas, dalam perjalanan menggunakan Kereta Luar Biasa dari Yogyakarta menuju Gambir pada Rabu (8/7/2026).
Bobby menerangkan bahwa ada pandangan masyarakat yang perlu diluruskan terkait masa depan Gambir. Menurutnya, Gambir dan Manggarai tidak dirancang untuk saling berkompetisi, melainkan memiliki peran pelengkap yang berbeda dalam ekosistem transportasi Jabodetabek.
“Selama ini ada persepsi yang perlu diluruskan mengenai Gambir. Gambir tidak kami benturkan dengan Manggarai. Manggarai tetap menjadi pusat perpindahan antarlintas, sementara Gambir kami siapkan sebagai pintu KA Jarak Jauh di pusat kota, akses ke kawasan Monas, dan bagian dari integrasi transportasi publik Jakarta,” ujar Bobby.
Stasiun Gambir dinilai memiliki lokasi yang sangat strategis karena berada di jantung ibu kota, berdekatan dengan Monas, pusat pemerintahan, perkantoran, perhotelan, serta moda transportasi terintegrasi lainnya.
Lewat keunggulan geografis ini, pembenahan Gambir difokuskan agar pengguna jasa mendapatkan pengalaman mobilitas yang mulus sejak tiba di stasiun hingga beraktivitas di pusat kota.
Saat ini, Stasiun Gambir mengakomodasi 34 perjalanan KA reguler per hari atau melayani sekitar 78 pemberhentian penumpang KA Jarak Jauh. Sementara itu, jalur layang di stasiun ini juga dilewati oleh 326 perjalanan KRL Commuter Line lintas Jakarta Kota–Bogor dan Jakarta Kota–Nambo pp setiap harinya.
Pihak KAI menerangkan bahwa untuk saat ini, KRL yang melintas di Gambir masih belum melayani proses naik-turun penumpang.
Rencana pembukaan layanan KRL di stasiun tersebut masih dalam kajian bertahap karena memerlukan persiapan matang dari segi infrastruktur, kapasitas jalur, sistem kelistrikan, persinyalan, keselamatan, hingga koordinasi bersama regulator.
“Integrasi itu perlu tahap. Pelanggan harus mendapat akses yang lebih mudah, tetapi keselamatan dan keandalan operasi tetap nomor satu. Karena itu, kesiapan peron, alur pelanggan, listrik, persinyalan, kapasitas lintas, dan koneksi moda lanjutan harus dihitung dengan benar,” kata Bobby.
Lebih lanjut, Bobby menilai konektivitas menuju pusat Jakarta harus semakin dipermudah lewat transportasi massal. Penduduk dari wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Cibinong, dan Nambo memerlukan akses yang lebih praktis menuju kawasan Monas, perkantoran, dan layanan kereta antarkota.
“Kami ingin masyarakat Jabodetabek punya akses yang lebih mudah ke pusat kota. Orang dari Depok, Bogor, Cibinong, Nambo, dan wilayah lain harus punya pilihan transportasi publik yang lebih baik untuk menuju kawasan Monas dan Gambir. Jadi akses ke pusat kota tidak bertumpu pada kendaraan pribadi,” ujar Bobby.
Kebutuhan integrasi ini kian mendesak mengingat lonjakan volume penumpang KRL Jabodetabek yang sangat signifikan. Data menunjukkan jumlah pergerakan penumpang naik dari 217.964.892 perjalanan pada tahun 2022 menjadi 344.621.825 perjalanan di tahun 2025, atau tumbuh sebesar 58,11%.
Lintas Bogor Line tercatat sebagai kontributor penumpang terbesar, di mana pada periode Januari–Juni 2026 saja telah melayani 78.077.679 penumpang.
Oleh karena itu, peningkatan kapasitas KRL harus digarap secara menyeluruh. KAI tengah merampungkan perpanjangan peron jalur 6, 7, dan 8 di Stasiun Bogor untuk mendukung operasional rangkaian KRL 12 kereta (SF12) yang ditargetkan selesai pada 15 Juli 2026.
“Menambah rangkaian tidak bisa berdiri sendiri. Peron harus siap, listrik harus siap, persinyalan harus siap, dan pola operasinya juga harus siap. Kalau semuanya tertata, kepadatan bisa dikelola lebih baik dan pelanggan mendapat layanan yang lebih nyaman,” ujar Bobby.
Di sisi lain, Bobby menegaskan bahwa aspek operasional adalah fondasi utama KAI, sehingga isu keselamatan dan pelayanan menjadi prioritas tertinggi. Restrukturisasi organisasi di jajaran direksi pun ditujukan demi memperkuat pengelolaan sarana, prasarana, serta keselamatan perjalanan.
“Basis KAI adalah operasi. Maka operasi harus kuat. Keselamatan tidak bisa ditawar, sementara hospitality harus dipertahankan dan ditingkatkan. Dua hal ini berjalan bersama: perjalanan harus selamat, dan pelanggan harus merasakan layanan yang semakin baik,” kata Bobby.
Pengembangan Stasiun Gambir juga selaras dengan strategi perusahaan dalam mendiversifikasi sumber pemasukan.
Pasalnya, saat ini mayoritas pendapatan KAI (sekitar 96%) masih bersumber dari bisnis angkutan penumpang dan barang (farebox), sedangkan pendapatan dari sektor non-tiket (non-farebox) baru mencapai sekitar 4%.
“Selama ini sekitar 96% pendapatan KAI berasal dari operasi kereta api. Pendapatan non-farebox masih sekitar 4%. Ke depan, ini perlu diperkuat. Operasi tetap menjadi inti, tetapi aset stasiun juga harus bekerja lebih produktif agar manfaatnya kembali kepada layanan dan masyarakat,” ujar Bobby.
Bobby menambahkan bahwa banyak aset potensial milik KAI yang belum dioptimalkan secara maksimal (under leverage).
Oleh sebab itu, peningkatan produktivitas aset melalui program penataan di kawasan Manggarai, Gambir, hingga Bandung menjadi agenda krusial demi menaikkan tingkat imbal hasil aset (return on asset) KAI yang saat ini berada di angka 2–2,1%.
“Aset KAI besar, tetapi sebagian masih under leverage. Aset-aset ini perlu mulai diberdayakan. Ada program Manggarai, Gambir, Bandung, dan kawasan lain. Tujuannya agar aset tidak berhenti sebagai ruang pasif, tetapi memberi nilai tambah untuk layanan, pelanggan, dan ekonomi kawasan,” kata Bobby.
Gambir menjadi aset properti yang paling prospektif untuk dioptimalkan. Berdasarkan Kajian Optimalisasi Bisnis, stasiun ini diproyeksikan sebagai Modern Station & Lifestyle Hub dengan mengusung tiga pilar utama: mobility, culture, dan lifestyle, yang nantinya akan terhubung langsung dengan kawasan Medan Merdeka.
Rencana induk tersebut mencakup integrasi fisik dengan halte Transjakarta, stasiun MRT, area pejalan kaki, fasilitas kuliner, hotel transit, ruang pertemuan, hingga taman atap (rooftop park). Melalui konsep baru ini, alur pergerakan penumpang KRL dan KA Jarak Jauh akan dipisahkan secara lebih rapi dan teratur.
“Stasiun yang baik itu membuat pelanggan mudah. Mereka tahu masuk dari mana, menunggu di mana, berpindah moda ke mana, dan melanjutkan perjalanan lewat akses apa. Itu yang sedang kami tata di Gambir,” ujar Bobby.
Selain itu, revitalisasi Gambir menjadi bagian integral dari penataan total kawasan Monas sebagai ruang terbuka hijau publik. KAI memosisikan Gambir sebagai beranda depan yang ramah dan nyaman bagi para pendatang maupun komuter di ibu kota.
“Monas adalah ruang publik yang sangat penting bagi masyarakat. Gambir berada tepat di dekat kawasan itu. Maka Gambir harus menjadi teras yang baik bagi orang yang datang, berangkat, berpindah moda, dan menikmati pusat Jakarta,” kata Bobby.
Ekosistem bisnis di Stasiun Gambir saat ini sudah bergerak produktif dengan adanya 132 titik komersial yang dihuni oleh berbagai penyewa seperti gerai makanan, minimarket, toko buku, hingga fasilitas hotel transit.
Jika proyek pengembangan komersial seluas 15.479 m² untuk ritel serta 3.756 m² untuk akomodasi hospitality ini terwujud, diproyeksikan akan ada tambahan 220 hingga 310 unit usaha baru yang berpotensi menyerap hingga 1.000 tenaga kerja lokal.
Dari sudut pandang finansial, Direktur Keuangan dan Umum KAI Indarto Pamoengkas menekankan bahwa seluruh pembenahan fasilitas ini didukung oleh kondisi keuangan internal yang sangat prima.
Pada Tahun Buku 2025, total aset KAI Group meningkat 8,58% mencapai Rp105,43 triliun, didorong oleh pertumbuhan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,28 triliun dan lonjakan arus kas operasi hingga Rp7,15 triliun.
“Kinerja keuangan yang sehat memberi ruang bagi KAI untuk menjaga perawatan, memperkuat kesiapan sarana, menata stasiun, serta menjalankan investasi layanan secara lebih terukur. Efisiensi yang dilakukan perusahaan dikembalikan untuk mendukung keselamatan, operasi, dan kenyamanan pelanggan,” ujar Indarto.
Pertumbuhan performa KAI juga terlihat dari volume operasional Semester I 2026, di mana KAI Group sukses mengangkut 258,99 juta penumpang dan melayani pengapalan 32,50 juta ton komoditas barang.
KAI juga memperluas ekspansi rute baru, meresmikan operasional Stasiun KRL JIS, menutup 172 perlintasan sebidang liar demi keselamatan warga, serta terus menjalankan kereta ekonomi bersubsidi bagi pedagang lokal.
Di akhir penjelasannya, Bobby menegaskan bahwa pembenahan sektor transportasi publik merupakan komitmen jangka panjang yang menuntut konsistensi tinggi dalam mengelola teknologi, infrastruktur, keuangan, dan perubahan pola kebiasaan masyarakat.
“Transportasi massal harus dibangun dengan konsistensi. Yang KAI siapkan adalah sistemnya: operasi yang kuat, keselamatan yang tidak bisa ditawar, hospitality yang terus ditingkatkan, aset yang lebih produktif, dan akses yang lebih mudah bagi masyarakat,” ujar Bobby.
Transformasi menyeluruh ini diharapkan tidak hanya menguntungkan bagi korporasi dari sisi bisnis semata, namun juga memberikan dampak positif nyata bagi perekonomian masyarakat sekitar stasiun.
“KAI ingin setiap pengembangan memberi arti bagi pelanggan dan masyarakat. Gambir kami siapkan sebagai stasiun yang semakin mudah diakses, nyaman digunakan, terhubung dengan kehidupan pusat Jakarta, dan memberi manfaat ekonomi bagi kawasan. Dengan tahapan yang tepat, manfaatnya dapat dirasakan pelanggan, pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat sekitar,” tutup Bobby.