KAI Catat Lonjakan Angkutan Retail 123.810 Ton di Semester I 2026

Senin, 06 Juli 2026 | 23:12:01 WIB
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba. (Foto: NET)

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengumumkan bahwa volume angkutan retail mereka selama Semester I 2026 menembus angka 123.810 ton. 

Perolehan ini memperlihatkan pertumbuhan sebesar 5,06% dari periode yang sama di tahun 2025 yang tercatat 117.851 ton, serta melonjak hingga 21,84% bila disandingkan dengan capaian Semester I 2024 sebanyak 101.617 ton.

Kenaikan positif tersebut mengindikasikan bahwa permintaan terhadap distribusi komoditas retail lewat jalur kereta api terus mengalami penguatan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, rata-rata muatan retail KAI menyentuh angka berkisar 20.635 ton tiap bulannya. 

Angka ini terpantau lebih tinggi daripada rata-rata bulanan Semester I 2025 yang berada di angka 19.642 ton serta Semester I 2024 yang hanya sebesar 16.936 ton.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, memaparkan bahwa sektor angkutan retail memegang peranan krusial sebagai salah satu area pertumbuhan dalam ekosistem logistik di tanah air. 

Menurutnya, fasilitas pengiriman ini menawarkan alternatif distribusi antarkota bagi para pelaku usaha yang lebih terjadwal, bermuatan besar, serta terintegrasi langsung dengan jaringan logistik para mitra.

“Angkutan retail KAI tumbuh karena pasar membutuhkan distribusi yang lebih efisien, terencana, dan mampu menjangkau lintas kota. Ini menjadi sinyal bahwa kereta api dapat mengambil peran lebih besar dalam sistem logistik nasional, termasuk untuk mendukung pelaku usaha dan UMKM,” ujar Anne.

Operasional angkutan retail milik KAI ini diaplikasikan lewat skema bisnis Business to Business (B2B) melalui jalinan kerja sama strategis bersama penyedia jasa logistik. 

Lewat mekanisme ini, para pelaku usaha, pelaku UMKM, maupun masyarakat umum bisa memanfaatkan akomodasi pengiriman via kereta api melalui titik layanan, jaringan mitra, dan moda distribusi lanjutan yang tersedia.

Dalam sistem rantai pasok, moda kereta api memiliki peranan yang dominan pada segmen middle-mile atau transportasi utama antarkota. 

Komoditas barang akan dikumpulkan terlebih dahulu oleh pihak mitra, kemudian diangkut memakai kereta api melalui jalur utama, sebelum akhirnya disalurkan kembali lewat pengiriman lanjutan menuju lokasi penerima. 

Mekanisme ini menempatkan kereta api sebagai pilar utama pengiriman jarak menengah hingga jauh, sedangkan moda transportasi jalan raya tetap memegang andil penting dalam proses awal dan akhir pengiriman.

“Kereta api memiliki keunggulan pada kapasitas, keteraturan jadwal, dan efisiensi untuk perjalanan antarkota. Ketika peran ini dipadukan dengan jaringan first-mile dan last-mile dari mitra, pelaku usaha bisa mendapatkan rantai distribusi yang lebih kompetitif,” kata Anne.

Langkah penguatan pada angkutan retail berbasis rel ini dinilai kian krusial mengingat tingginya ongkos logistik domestik masih menjadi hambatan utama bagi daya saing di tingkat nasional. 

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pengeluaran logistik di Indonesia masih berkisar di angka 14,29% dari PDB. 

Mahalnya biaya pengiriman ini memicu dampak berantai terhadap harga jual produk, kompetitfnya nilai ekspor, minat investasi, ketimpangan harga antar-daerah, hingga ketahanan pasokan barang.

Jika membandingkannya secara global, Bank Dunia memetakan bahwa rata-rata pengeluaran logistik dunia berada pada level 13% dari PDB, sementara negara dengan sistem paling efisien mampu menekannya hingga kisaran 8% dari PDB. 

Komparasi tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia masih mempunyai ruang pembenahan yang luas guna memacu efisiensi rantai pasok dalam negeri, salah satunya dengan memperbesar porsi angkutan logistik berbasis rel.

Merujuk data BPS mengenai PDB Indonesia tahun 2025 atas dasar harga berlaku yang menyentuh Rp23.821,1 triliun, rasio biaya logistik nasional yang sebesar 14,29% tersebut setara dengan pengeluaran sekitar Rp3.404 triliun per tahun. 

Melalui pemodelan makro, apabila sistem logistik nasional mampu ditekan tingkat efisiensinya sebesar 30% secara menyeluruh, maka ruang penghematan yang bisa didapatkan secara teoritis mampu menyentuh angka Rp1.021 triliun setiap tahunnya. 

Nominal ini merefleksikan betapa masifnya multiplier effect ekonomi yang lahir dari penguatan sistem distribusi yang efisien.

Pihak regulator pun terus memberikan stimulus terhadap perluasan jalur kereta api sebagai langkah taktis mereduksi beban pengiriman sekaligus memperkokoh interkoneksi ekonomi antar-wilayah. 

Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan pada tahun 2026 ini mengonfirmasi bahwa akselerasi pembangunan jalur kereta api yang terpadu mampu memangkas pengeluaran logistik secara masif serta mendongkrak daya saing ekonomi kedaerahan.

Anne mengimbuhkan, grafik naik pada sektor angkutan retail KAI ini wajib dimanfaatkan sebagai titik balik dalam mengokohkan regulasi logistik nasional yang bertumpu pada rel. 

Ia menilai kereta api punya kans besar untuk bertindak sebagai tulang punggung pengiriman antarkota, terkhusus bagi rute-rute yang memiliki stabilitas volume barang, jarak tempuh menengah-jauh, serta memerlukan ketepatan waktu kirim.

“Penguatan angkutan retail berbasis kereta api perlu dilihat sebagai bagian dari agenda besar efisiensi logistik nasional. Ketika barang retail dapat dikonsolidasikan lebih baik, dihubungkan ke jaringan rel, lalu diteruskan melalui distribusi lanjutan oleh mitra, biaya pengiriman berpotensi semakin kompetitif. Dampaknya akan kembali kepada pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat melalui rantai pasok yang lebih sehat,” ujar Anne.

KAI berkomitmen untuk terus membuka peluang sinergi bersama pihak birokrasi pemerintah, penyedia jasa logistik, pelaku industri, pengelola kawasan industri, hingga pelaku UMKM demi memperluas kontribusi kereta api dalam sirkulasi barang retail. 

Keberadaan dukungan pada simpul-simpul logistik, keterpaduan antar-moda, kemudahan akses pengiriman awal dan akhir, serta pemusatan muatan retail menjadi aspek kunci agar kereta api mampu menyumbang peran lebih masif dalam mereduksi beban logistik nasional.

Melihat tren peningkatan yang terjadi secara konsisten, performa angkutan retail KAI memunculkan indikasi kuat bahwa tata logistik berbasis rel sudah sepantasnya diposisikan ke dalam jajaran agenda strategis prioritas pemerintah.

“Semakin besar porsi barang yang beralih ke kereta api untuk perjalanan utama antarkota, semakin besar juga peluang Indonesia membangun sistem distribusi yang lebih efisien, kompetitif, dan memberi manfaat langsung bagi ekonomi masyarakat,” tutup Anne.

Terkini