Proyek WtE Danantara Serap Hingga 130 Ribu Tenaga Kerja Lokal

Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:07:31 WIB
Chief Executive Officer Denera Fadli Rahman. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), korporasi pengelolaan sampah terpadu yang masuk dalam ekosistem Danantara Indonesia, berkomitmen memaksimalkan penyerapan tenaga kerja lokal dalam pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WtE).

Chief Executive Officer Denera Fadli Rahman menekankan krusialnya partisipasi beragam elemen masyarakat dalam penerapan WtE, baik pada fase pembangunan maupun saat pengoperasian fasilitas tersebut.

“Kami memastikan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak lokal berjalan dengan baik, termasuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu (4/7/2026).

Danantara Indonesia memperkirakan diperlukan sekitar 500-1.000 pekerja untuk merampungkan proses konstruksi tiap fasilitas Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), yang ditargetkan berdiri sebanyak 33 unit di penjuru Indonesia. Sedangkan total kebutuhan tenaga kerja dari fase konstruksi hingga operasional diestimasi menyentuh 130 ribu orang.

Fadli mengungkapkan bahwa problematika manajemen sampah telah menjadi isu lintas generasi dan bermutasi menjadi persoalan sosial yang menentukan mutu kehidupan publik di masa depan.

Ia pun mengimbau segenap elemen masyarakat untuk menyokong tiap tindakan penanggulangan sampah, baik dalam dimensi kecil maupun besar, dari sektor hulu sampai hilir, yang dimulai dari pemilahan sampah paling mendasar hingga pemanfaatan aneka teknologi pemrosesan tingkat lanjut.

“Mari kami bersama-sama mendukung setiap upaya yang dapat menjadi solusi bagi persoalan sampah di Indonesia,” kata Fadli Rahman.

Pada momen terpisah, Sustainability Provocateur sekaligus Founder Social Investment Indonesia, Jalal, berpendapat bahwa pembangunan infrastruktur WtE wajib bergerak selaras dengan penguatan kebiasaan memilah sampah di level rumah tangga, area komersial, maupun sektor industri.

Hal itu dikarenakan kendala manajemen sampah bukan cuma bersumber dari aspek teknologi, melainkan juga karakteristik sampah yang mayoritas berupa bahan organik berkadar air tinggi sehingga memerlukan pemilahan sebelum diolah lebih jauh.

Ia pun menegaskan bahwa pelibatan semua komponen masyarakat yang terdampak secara bermakna (meaningful engagement) harus dijadikan bagian integral dari tiap proyek WtE. Publik wajib memperoleh keuntungan dari sisi ekologi, ekonomi, serta sosial atas kehadiran proyek itu.

“Partisipasi masyarakat bukan sekadar formalitas dalam proses perizinan. Warga sekitar harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, mendapatkan akses terhadap informasi emisi secara terbuka, serta memperoleh manfaat nyata dari proyek yang dibangun. Tanpa itu, WtE berpotensi kehilangan legitimasi sosial yang justru menjadi fondasi keberlanjutannya,? kata Jalal.

Terkini