Amdatara Dorong Ekonomi Sirkular dan Kelestarian Air di Industri AMDK

Jumat, 03 Juli 2026 | 21:44:36 WIB
Ilustrasi - Air minum dalam kemasan (AMDK). (Foto: NET)

JAKARTA - Fokus utama industri air minum dalam kemasan (AMDK) saat ini tertuju pada penerapan ekonomi sirkular dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. 

Langkah ini diambil demi menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memenuhi tuntutan kelestarian lingkungan. Melalui program konservasi dan penguatan rantai daur ulang, para pelaku industri berkomitmen menyelaraskan kemajuan usaha dengan menjaga kelestarian alam.

Sinergi dengan pemerintah terus diperkuat oleh Perkumpulan Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) dalam hal pengelolaan air yang berkelanjutan dan pengembangan ekonomi sirkular. Upaya kolaboratif ini bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan industri yang lebih bertanggung jawab.

Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo menyatakan bahwa bagi industri AMDK, air merupakan aset bersama yang wajib dijaga kelestariannya dan bukan sekadar bahan baku utama. Oleh karena itu, langkah perlindungan lingkungan serta konservasi air menjadi elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dari kelangsungan industri ini.

"Konservasi air dan perlindungan lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan industri," kata Karyanto dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).

Karyanto berpendapat bahwa industri AMDK tidak akan bisa berkembang tanpa adanya sumber air yang lestari. Atas dasar tersebut, aspek keberlanjutan menjadi kepentingan kolektif yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat luas.

Karyanto memaparkan bahwa industri AMDK di tingkat nasional saat ini ditopang oleh sekitar 707 pabrik yang memiliki kapasitas produksi hingga 47 miliar liter per tahun. 

Sektor ini juga menyerap kurang lebih 46.000 tenaga kerja langsung dan menggerakkan jutaan peluang ekonomi pada lini logistik, distribusi, rantai pasok, perdagangan, hingga sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Merujuk pada data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ada 8.721 produk AMDK yang resmi terdaftar di Indonesia. Mayoritas merupakan produk lokal yakni sebanyak 8.700 produk (99,76%), sementara produk impor hanya berjumlah 21 produk (0,24%). 

Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu pusat industri AMDK nasional dengan menampung sekitar 131 perusahaan atau berkontribusi hampir 20% dari keseluruhan industri AMDK di tanah air.

Amdatara menegaskan komitmen seluruh pelaku industri untuk selalu mematuhi regulasi terkait pemanfaatan air, kelestarian lingkungan, serta kewajiban pemantauan dan pelaporan. 

Anggota asosiasi juga aktif menjalankan program konservasi, seperti melindungi wilayah resapan air, merehabilitasi lahan, membuat sumur resapan, menanam pohon, hingga mengedukasi publik mengenai pentingnya menjaga sumber daya air.

Di wilayah Jawa Tengah sendiri, sejumlah perusahaan yang tergabung dalam Amdatara telah merealisasikan penanaman ratusan ribu pohon di area tangkapan air sebagai komitmen menjaga keberlanjutan pasokan air.

Di sisi lain, Amdatara konsisten mendorong penguatan ekonomi sirkular. Langkah ini diwujudkan melalui pengumpulan kemasan bekas pakai, pengembangan rantai nilai daur ulang, optimalisasi pemakaian material daur ulang sesuai aturan, serta jalinan kemitraan dengan bank sampah, pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan pelaku industri daur ulang.

Inisiatif manajemen sampah dan penyediaan fasilitas daur ulang tersebut telah berjalan di beberapa daerah di Jawa Tengah, termasuk Klaten, Semarang, dan Wonosobo. Industri AMDK juga mengambil peran sebagai offtaker atau penyerap material plastik daur ulang agar bisa diproses kembali menjadi bahan baku yang bernilai ekonomi.

Selain itu, Amdatara menyuarakan beberapa poin masukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Poin-poin tersebut meliputi pentingnya keselarasan regulasi antara pusat dan daerah, tata kelola sumber daya air yang berpijak pada data dan riset ilmiah, serta dukungan terhadap investasi berkelanjutan bagi pelaku industri yang patuh pada regulasi lingkungan.

Terkini