Hadapi Tantangan Global, Bank Jakarta dan BEI Dorong Transformasi

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:41:01 WIB
Siasat Bank Jakarta & BEI Jaga Industri Keuangan dari Guncangan [FOTO: NET].

JAKARTA — Manajemen Bank Jakarta bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) seirama memandang bahwa langkah transformasi bisnis serta penguatan mutu para penanam modal merupakan instrumen krusial dalam memelihara daya tahan sektor industri keuangan di tengah pusaran dinamika ekonomi global serta pergeseran tren perilaku pasar.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, mengutarakan bahwa apabila ditinjau dari indikator fundamental, performa sektor perbankan domestik secara umum masih berada di koridor yang kokoh. 

Realitas tersebut tecermin lewat grafik penyaluran kredit yang konsisten positif, struktur pemodalan yang tebal, ketersediaan likuiditas yang aman, hingga rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang berada di level relatif rendah.

Kendati begitu, menurut pandangannya, rintangan riil yang membayangi industri pada saat sekarang ini bukan lagi bersumber dari faktor fundamental, melainkan karena pergeseran peta kompetisi bisnis yang bergerak kian fluktuatif.

"Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah," katanya dalam bincang-bincang Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market pada Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Agus menjabarkan bahwa sektor industri perbankan dalam beberapa tahun ke belakang dipaksa berhadapan dengan bermacam-macam gejolak, mulai dari hantaman pandemi Covid-19, ketegangan hubungan geopolitik internasional, hingga pergeseran arah regulasi perdagangan dunia. 

Sederet situasi pelik tersebut memaksa industri perbankan untuk tidak lagi menerapkan strategi bisnis secara konvensional atau apa adanya.

Bukan cuma itu, sektor perbankan pun dibayangi oleh tekanan dari sisi ongkos penghimpunan dana (cost of fund). Dia memberikan gambaran bahwa tingkat suku bunga deposito pada mekanisme lelang likuiditas antarbank sempat menyentuh posisi 11,5%, yang mengindikasikan adanya kenaikan beban biaya pemupukan dana di pasar.

Guna mengantisipasi pusaran dinamika tersebut, Bank Jakarta menerapkan kebijakan transformasi pada berbagai lini operasional, mulai dari penajaman pola bisnis, modernisasi layanan berbasis digital, mitigasi risiko, hingga pembenahan aspek budaya kerja korporasi. Selaku entitas perbankan yang kepemilikan saham mayoritasnya dipegang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perusahaan juga memfokuskan ekspansi usahanya pada penguatan ekosistem jajaran pemerintah daerah.

Di samping memantapkan struktur bisnis, Bank Jakarta mengakselerasi program digitalisasi lewat langkah pembaruan infrastruktur teknologi informasi, perancangan aplikasi terintegrasi, hingga pemutakhiran kompetensi sumber daya manusia. 

Agus mengimbuhkan, penguatan tata kelola manajemen risiko turut diposisikan sebagai program prioritas lantaran potensi risiko yang membayangi dunia perbankan kini kian kompleks, termasuk di dalamnya ancaman kejahatan siber.

"Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi," ujarnya.

BEI Dorong Kualitas Investor

Pada momentum yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffry Hendrik, menyampaikan bahwa kokohnya struktur pasar modal tidak semata-mata bertumpu pada lonjakan kuantitas investor, melainkan juga harus diimbangi oleh mutu dari investor itu sendiri. 

Berdasarkan penjelasannya, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta jajaran self-regulatory organization (SRO) berkomitmen penuh untuk memacu aspek transparansi pasar, penyajian basis data investor yang lebih mendalam (granular), pendalaman struktur pasar, hingga peningkatan keterbukaan informasi kepada publik.

"Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi," katanya.

Jeffry memaparkan bahwa akumulasi jumlah investor lokal pada saat ini telah menembus angka 28 juta. Kendati demikian, lonjakan kuantitas investor ini dinilai perlu diselaraskan dengan tingkat literasi serta pemahaman berinvestasi yang mumpuni supaya mampu bertindak selaku pilar penyangga pasar modal yang lebih tangguh.

 Menurutnya, para investor dituntut untuk memahami karakteristik risiko masing-masing serta dibekali kecakapan dalam mengeksplorasi analisis secara mandiri, bukan cuma sekadar mengekor tren yang tengah viral di market.

"Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO," ujarnya.

Selaras dengan pandangan tersebut, Agus mengutarakan bahwa Bank Jakarta juga tidak semata-mata memburu pencapaian ekspansi volume bisnis, melainkan lebih memprioritaskan pola pertumbuhan yang sehat serta memiliki mutu tinggi.

"Kami enggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kami kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas," katanya.

Baik manajemen Bank Jakarta maupun pihak BEI sepakat menyimpulkan bahwa implementasi transformasi digital, penguatan tata kelola (good corporate governance), peningkatan aspek transparansi, serta perluasan literasi keuangan bakal bertindak sebagai pilar fundamental yang krusial bagi industri keuangan dalam menghadapi ombak perubahan ekonomi dan pasar yang bergulir kian cepat.

Terkini