APTI Minta Kementan Lindungi Industri Tembakau

Rabu, 01 Juli 2026 | 21:20:01 WIB
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun Kementan) Ali Jamil. (Foto: NET)

JAKARTA - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mendesak Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) agar memayungi regulasi yang mendukung keberlanjutan industri tembakau.

"Tembakau adalah satu-satunya tanaman andalan petani saat musim kemarau. Kontribusinya sangat besar bagi penerimaan negara, menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah,” kata Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (Sekjen DPN) APTI, Mudi, di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Berdasarkan penjelasan Mudi, tembakau menjadi produk andalan bagi 2,5 juta petani yang tersebar pada 14 provinsi di Indonesia. 

Kendati demikian, kondisi saat ini dinilai mengkhawatirkan bagi para petani akibat munculnya sejumlah kebijakan berskala nasional, seperti penyeragaman bungkus rokok, pembatasan kadar tar dan nikotin, hingga larangan penggunaan bahan tambahan. 

Mengingat komoditas ini 98 persennya dikuasai oleh perkebunan rakyat, Mudi menggarisbawahi pentingnya memproteksi tembakau dari aturan yang berpotensi menjegal hilirisasi produk perkebunan.

Di pihak lain, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Dirjenbun Kementan) Ali Jamil menyatakan secara tegas bahwa bidang perkebunan tidak dapat lagi dipandang sebelah mata. Berkaca pada rekam jejak sejarah, Ali menuturkan bahwa warga yang mempunyai lahan perkebunan justru sanggup bertahan sewaktu Indonesia dihantam krisis ekonomi.

"Jangan menganggap perkebunan sebagai sektor yang rendah. Saat krisis 1998, masyarakat yang memiliki tanaman perkebunan masih bisa bertahan. Artinya, sektor ini memiliki daya tahan ekonomi yang sangat kuat," ujar Ali.

Merujuk pada data BPS, Ali Jamil menjabarkan bahwa subsektor perkebunan ini dikelola oleh 10,87 juta rumah tangga usaha pertanian yang merepresentasikan potret makro perkebunan. Oleh sebab itu, Ali memandang penting adanya langkah untuk memberdayakan, memproteksi, serta mengarahkan para petani.

“Butuh kerja keras karena memang lebih dari 90 persen pelaku usaha perkebunan adalah petani rakyat sehingga perlu penguatan. Komoditas perkebunan kami potensinya sangat besar, luasannya, hasil produktivitasnya bagus. Permasalahan krusialnya adalah hasilnya masih didominasi raw material, rantai pasok belum terintegrasi dengan baik," ungkap Ali.

Terkini