Rupiah Melemah, Harga Bawang Putih Impor Katrol Inflasi Juni 2026

Rabu, 01 Juli 2026 | 20:26:31 WIB
Pelemahan Rupiah dan Bawang Putih Impor Picu Inflasi Juni 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA — Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ikut memicu lonjakan harga bawang putih impor sekaligus memengaruhi laju inflasi Juni 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata inflasi Juni 2026 menyentuh angka 0,44% secara bulanan (month to month/MtM), bergerak lebih tinggi ketimbang catatan inflasi Mei 2026 yang bertengger di level 0,28%. 

Secara tahunan, inflasi Indonesia berada di posisi 3,34% (year on year/YoY), sementara secara tahun kalender merangkak ke angka 1,79% (year to date/YtD).

"Kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,40 pada Mei 2026 meningkat menjadi 111,89 pada Juni 2026," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis berita resmi statistik, Rabu (1/7/2026).

Ateng memaparkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mendapati inflasi sebesar 0,20% dengan sumbangsih terhadap inflasi umum di angka 0,06%. Sejumlah bahan pangan yang menjadi pemicu utama inflasi pada sektor tersebut di antaranya ialah bawang merah, bawang putih, serta beras.

Menurut penjelasan Ateng, lonjakan harga bawang putih mayoritas dipicu oleh terkereknya ongkos logistik global serta pelemahan nilai tukar rupiah atas mata uang dolar AS.

"Kenaikan harga bawang putih ini terutama disebabkan oleh peningkatan biaya logistik dan adanya penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah," kata Ateng.

Ia menjabarkan bahwa eskalasi biaya kargo barang pada level global telah memberikan tekanan terhadap nilai jual bawang putih impor.

 Pada waktu yang sama, keperkasaan dolar AS mengakibatkan biaya pembelanjaan bawang putih dari negara asal bertransformasi menjadi lebih mahal sewaktu dikonversikan ke mata uang rupiah.

"Untuk inflasi bawang putih ini akibat kenaikan biaya angkutan barang secara global, serta juga kecenderungan adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," ujarnya.

Indonesia sepanjang ini masih menggantungkan pasokan pada jalur impor demi mengakomodasi kebutuhan bawang putih domestik, sehingga fluktuasi kurs rupiah teramat memengaruhi harga komoditas dimaksud pada tingkatan pembeli.

Bukan cuma bawang putih, inflasi Juni 2026 turut dipengaruhi oleh lonjakan nilai jual bawang merah. Ateng menuturkan inflasi bawang merah dipicu oleh ketersediaan stok yang masih terbatas secara nasional, kendati volume produksi pada sejumlah daerah sentra utama mulai menanjak.

Akselerasi produksi bawang merah berlangsung di beraneka wilayah, antara lain Brebes, Jawa Tengah; Solok, Sumatra Barat; serta Bima dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat. 

Walakin, hasil bumi bawang merah juga mencatatkan penyusutan di beberapa sentra lain layaknya Enrekang, Sulawesi Selatan; Demak, Jawa Tengah; serta Sampang, Jawa Timur.

"Inflasi komoditas bawang merah didorong oleh pasokan yang masih terbatas secara nasional, meskipun terjadi peningkatan produksi pada beberapa sentra produksi," kata Ateng.

Sektor Transportasi Jadi Stimulus Terbesar Inflasi Juni 2026

BPS mendata kategori transportasi bertindak sebagai penyumbang paling masif bagi inflasi Juni 2026 dengan tingkat inflasi menyentuh 2,29% dan sumbangsih terhadap inflasi umum sebesar 0,28%.

 Komoditas primer pembentuk inflasi kelompok transportasi ialah bensin dengan andil 0,21%, mengekor di belakangnya tarif penerbangan udara sebesar 0,05% serta minyak pelumas di angka 0,01%.

Ateng pun membeberkan dinamika harga BBM nonsubsidi ikut mewarnai laju inflasi pada Juni 2026, terutama bersumber dari naiknya harga Pertamax dan Pertamax Turbo, kendati pada aspek lain terjadi penurunan nilai jual pada Dexlite serta Pertamina Dex.

Dengan begitu, perpaduan dari eskalasi harga energi, depresiasi rupiah atas dolar AS, serta lonjakan harga pangan impor layaknya bawang putih bertransformasi menjadi faktor utama yang memacu gerak inflasi Indonesia pada Juni 2026.

Terkini