Harita Nickel Kebut Proyek Strategis dan Energi Bersih

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:30:31 WIB
Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel tengah memacu perampungan tiga proyek di Kawasan Industri Pulau Obi, Maluku Utara, yang masuk dalam daftar proyek strategis nasional (PSN). 

Ketiga proyek tersebut mencakup pembangunan pabrik pengolahan nikel Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), pabrik pemrosesan batu kapur menjadi quicklime guna menunjang operasional High Pressure Acid Leach (HPAL), serta fasilitas untuk daur ulang tailing.

Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy memaparkan bahwa proyek RKEF ketiga di Pulau Obi yang dikelola oleh PT Karunia Permai Sentosa (KPS) kini sudah masuk fase penyelesaian akhir.

“Saya ingin mengupdate sedikit mengenai perkembangan proyek yang sedang kami lakukan di Pulau Obi. Saat ini PT Karunia Permai Sentosa merupakan RKEF plan yang ketiga kami, sedang dalam proses finalisasi,” kata Roy dalam acara Public Expose performa dan proyek perseroan 2026, Selasa (30/6/2026).

Pabrik RKEF ketiga milik Harita Nickel ini dirancang mempunyai 12 lini produksi dengan total kapasitas terpasang mencapai 185.000 ton nikel dalam wujud feronikel (FeNi) per tahunnya. 

Sebanyak 10 lini produksi dipastikan telah rampung pada tahun 2025, sementara 2 lini sisanya selesai digarap pada triwulan pertama tahun 2026. Dengan hasil itu, seluruh tahapan konstruksi untuk fasilitas KPS telah tuntas.

“KPS merupakan RKEF plan yang ketiga kami. Sedang dalam proses finalisasi, KPS akan mempunyai 12 line produksi dengan kapasitas nempel sebesar 185.000 ton nikel metal dalam bentuk feronikel untuk setahun,” jelasnya.

“KPS telah menyelesaikan sepuluh line pada 2025 dan dua line terakhir telah diselesaikan pada kuartal satu atau di semester satu ini dengan baik, sehingga 12 line telah terbangun dengan atau telah selesai konstruksi dengan baik sampai saat ini,” tambah dia.

Saat ini, sebagian lini produksi mulai melalui tahapan peningkatan volume (ramp up) demi menuju kapasitas operasional yang optimal. Pihak manajemen menargetkan seluruh lini produksi dapat beroperasi penuh pada penghujung tahun 2026. 

RKEF ketiga ini bakal menjadi fasilitas pemrosesan nikel paling besar yang dimiliki oleh Harita Nickel di wilayah Pulau Obi.

Sebelumnya, Harita Nickel telah mengoperasikan dua fasilitas pengolahan nikel. Fasilitas pertama dikelola oleh PT Megah Surya Pertiwi (MSP) yang memiliki kapasitas produksi 25.000 ton nikel per tahun. 

Fasilitas kedua dijalankan oleh PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), di mana smelter yang mulai beroperasi akhir 2022 tersebut kini sudah berfungsi penuh dengan 8 lini produksi dan kapasitas terpasang sebesar 95.000 ton nikel per tahun.

Adanya tambahan kapasitas dari KPS diproyeksikan mendongkrak total kapasitas dari tiga fasilitas RKEF milik Harita Nickel di Pulau Obi hingga menyentuh angka 305.000 ton nikel per tahun pada akhir tahun 2026.

“Untuk RKEF kami akan punya tiga RKEF plan. Pertama MSP dengan kapasitas 25.000 ton nikel per tahun. Kedua HJF yang juga sudah running full capacity dengan 8 line dengan total nempel sebesar 95.000 ton nikel per tahun. Dan sehingga total nempel kapasitas dari tiga RKEF yang kami bangun di Obi ini pada akhir tahun 2026 akan mencapai 305.000 ton nikel per tahun,” sambung Roy.

Bukan sekadar menggenjot kapasitas tampung produksi, Harita Nickel juga mendirikan proyek penunjang demi meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. 

Salah satu langkahnya ditempuh lewat PT Cipta Kemakmuran Mitra (CKM), sebuah perusahaan patungan yang mendirikan pabrik quicklime. Komoditas quicklime ini menjadi salah satu bahan baku krusial dalam metode pemurnian bijih nikel kadar rendah berbasis teknologi HPAL.

Pada tahun ini, CKM berhasil merampungkan pembangunan satu lini produksi. Fasilitas ini nantinya bakal menyuplai keperluan quicklime untuk dua pabrik HPAL kepunyaan perusahaan, yaitu PT Halmahera Persada Lygend (HPL) serta PT Obi Nickel Cobalt (ONC).

“Jadi kami dengan partner juga membangun satu pabrik dengan nama PT Cipta Kemakmuran Mitra atau CKM yang telah menyelesaikan satu line-nya pada tahun ini, di mana CKM akan menghasilkan quicklime untuk digunakan oleh dalam proses HPAL maupun di PT Halmahera Persada Lygend maupun di Obi Nickel Cobalt, keduanya HPAL plan yang kami sudah beroperasi di Pulau Obi,” urainya.

Pabrik pengolahan quicklime tersebut ditargetkan memiliki total tiga lini produksi. Untuk saat ini, satu lini yang sudah berjalan mempunyai kapasitas sekitar 18.000 ton quicklime per tahun.

“Harapan kami nantinya CKM akan menyelesaikan konstrusinya dengan baik sampai dengan menambah jadi total tiga line. Dan saat ini telah beroperasi satu line dengan kapasitas kurang lebih sekitar 18.000 ton quicklime per tahun,” tutur Roy.

Harita Nickel bersama dengan mitra strategisnya, Lygend, turut menggarap fasilitas pemanfaatan kembali atau daur ulang tailing. Proyek ini diinisiasi guna menekan kuantitas limbah hasil dari proses HPAL. 

Manajemen telah merampungkan pembangunan proyek percontohan (pilot project) di Pulau Obi beserta proses ujinya. Agenda peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk proyek skala komersial ditargetkan berjalan pada akhir tahun ini.

“Jadi kami telah menggunakan pilot project di Pulau Obi, dapat dilihat (slide) bahwa itu adalah contoh pilot project yang telah dibangun dan telah selesai dilakukan testing. Kami berharap nanti pada akhir tahun ini proyek tailing recycling ini akan mulai groundbreaking,” kata Roy.

Menurut dia, proyek daur ulang ini memuat dua target utama. Pertama untuk menyusutkan volume tailing dari sisa pengolahan nikel. Kedua untuk memunculkan nilai ekonomis baru lewat optimalisasi kandungan besi di dalam tailing agar menjadi produk turunan besi.

Di sisi lain, Harita Nickel juga terus memperbanyak adopsi energi bersih di lingkungan operasional Pulau Obi. Perusahaan sudah memasang panel surya pada hampir seluruh bagian atap bangunan dengan kapasitas akumulatif mencapai 40 megawatt peak (MWp).

Di samping itu, perseroan tengah melakukan penjajakan terkait rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga uap dengan kapasitas 50 megawatt (MW). Infrastruktur pembangkit ini nantinya akan memanfaatkan uap panas buangan (excess heat) dari pabrik pengolahan asam sulfat untuk dialihkan menjadi sumber energi listrik.

“Dan saat ini kami dalam tahap penjajakan untuk membangun satu pembangkit listrik tenaga uap yang dengan harapan kami akan membangun kapasitas tersebut sebesar 50 MW, di mana sumber uapnya itu adalah dari excess heat atau uap panas yang dihasilkan dari pabrik pengolahan asam sulfat,” tandasnya.

Terkini