Strategi HERO Dongkrak Kinerja: Ekspansi Guardian & Digitalisasi IKEA

Selasa, 30 Juni 2026 | 22:41:01 WIB
PT DFI Retail Nusantara Tbk. (HERO). (Foto: NET)

JAKARTA — PT DFI Retail Nusantara Tbk. (HERO), perusahaan yang mengelola jaringan ritel Guardian dan IKEA, tengah menyiapkan rentetan strategi guna menjaga tren pertumbuhan bisnis mereka di sepanjang tahun 2026.

Di tengah situasi ketidakpastian ekonomi serta tekanan pada daya beli masyarakat, perseroan memilih untuk mengakselerasi perluasan jaringan Guardian lewat metode lisensi dan waralaba. Di saat yang sama, HERO juga bakal memperkuat lini digital untuk produk-produk IKEA.

Mengenai proyeksi finansial secara mendetail untuk setahun penuh di 2026, President Director DFI Retail Nusantara Hadrianus Wahyu Trikusumo menyatakan belum bisa menyampaikannya secara rinci. 

Kendati demikian, manajemen memastikan bahwa realisasi performa usaha hingga kuartal pertama tahun ini, termasuk pencapaian Guardian dan IKEA hingga paruh pertama 2026, masih berjalan sesuai dengan estimasi internal perusahaan.

"Full year kami belum bisa memberikan prediksi. Namun sejauh ini hasil kuartal I dan pencapaian Guardian maupun IKEA hingga Mei masih baik dan on track sesuai target yang telah kami tetapkan," ujarnya dalam Public Expose yang dikutip, Selasa (30/6/2026).

Hadrianus menjelaskan bahwa untuk lini Guardian, pihak perusahaan kini sedang menggodok persiapan perluasan jaringan menggunakan sistem waralaba. Dikarenakan pengurusan sertifikasi waralaba masih dalam proses berjalan, untuk sementara waktu perusahaan memanfaatkan skema lisensi bisnis sebagai strategi awal ekspansi gerai.

Di samping mengandalkan metode lisensi, HERO dipastikan tetap melanjutkan proyek pembukaan gerai-gerai Guardian milik sendiri. Target utamanya adalah pusat-pusat perbelanjaan baru yang berada di kawasan strategis dan memenuhi kriteria internal perseroan.

Sementara itu, Head of Finance Guardian Indonesia Melia Asmita mengungkapkan bahwa fokus utama pertumbuhan Guardian tahun ini adalah meningkatkan aspek kepercayaan serta aksesibilitas bagi para pelanggan. 

Pihaknya memiliki agenda untuk memperbanyak perilisan produk-produk kecantikan lokal hasil kreasi para pelaku UMKM. Strategi ini diambil untuk memperkaya variasi produk sekaligus mendekatkan brand lokal kepada masyarakat luas.

"Kami berkomitmen untuk menghadirkan solusi kesehatan dan kecantikan yang semakin mudah dijangkau melalui ekosistem omnichannel yang kuat, produk-produk terpercaya, serta berbagai inisiatif yang mendukung gaya hidup sehat," jelasnya.

Di sisi lain, langkah yang diambil perseroan untuk memacu performa IKEA memiliki pendekatan yang berbeda. Hadrianus memprioritaskan optimalisasi jaringan digital ketimbang mendirikan toko fisik yang baru. 

Menurut pandangannya, operasional gerai fisik IKEA memerlukan dana investasi serta biaya perawatan yang tergolong besar, sehingga manajemen memilih fokus mendongkrak produktivitas dari toko-toko yang sudah ada saat ini.

"Store IKEA ukurannya besar sehingga biaya operasionalnya juga besar. Karena itu kami fokus meningkatkan performa toko yang ada, sedangkan ekspansi lebih diarahkan ke kanal online," ujarnya.

Menghadapi paruh kedua tahun 2026, lini bisnis IKEA telah menetapkan tiga fokus utama. Pertama, melanjutkan investasi pada sektor infrastruktur serta peningkatan pengalaman berbelanja konsumen yang sudah berjalan sejak tahun lalu. 

Kedua, membidik kelompok konsumen yang memiliki nilai transaksi tinggi. Walaupun daya beli global sedang melemah, manajemen melihat peluang tetap ada pada segmen pelanggan yang berbelanja dalam jumlah besar, meski frekuensi kedatangannya berkurang.

"Secara keseluruhan basket size memang mengalami penurunan. Namun masih ada pelanggan yang melakukan pembelian dengan nilai cukup tinggi dan itu akan menjadi target kami ke depan," katanya.

Fokus yang ketiga adalah mempercepat penetrasi unit bisnis IKEA for Business, yaitu divisi khusus yang menyediakan pengadaan produk untuk korporasi seperti perkantoran, pengembang perumahan, hingga apartemen. 

Hadrianus menambahkan bahwa permintaan dari sektor business to business (B2B) ini memperlihatkan tren pertumbuhan yang solid dalam dua tahun ke belakang dan dinilai punya prospek cerah.

"IKEA for Business menjadi salah satu area yang pertumbuhannya cukup baik. Ke depan kami akan terus mengembangkan segmen ini karena peluangnya masih sangat besar," ujarnya.

Jika melihat laporan keuangan HERO pada kuartal I/2026, perseroan berhasil mengantongi pendapatan hingga Rp1,4 triliun. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 16% bila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,21 triliun. 

Di samping itu, HERO sukses mencatatkan laba bersih sebesar Rp87 miliar pada kuartal pertama 2026, melesat dari perolehan kuartal I/2025 yang tercatat sebesar Rp27,1 miliar.

Walau menunjukkan performa positif, manajemen HERO tidak menampik bahwa situasi ekonomi saat ini masih memberikan tantangan tersendiri bagi sektor industri ritel, terutama disebabkan oleh melonjaknya harga sejumlah bahan baku yang ikut memicu pembengkakan biaya operasional perusahaan.

Terkini