JAKARTA. Nilai tukar mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (30/6/2026) jam 13.01 WIB, mata uang rupiah di pasar spot merosot 0,29% menuju level Rp 17.903 per dolar AS.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah di pasar spot justru berakhir menguat 0,40% secara harian di posisi Rp 17.852 per dolar AS pada Senin (29/6/2026).
Menurut pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, penurunan nilai rupiah ini dipicu oleh faktor geopolitik.
Ia menilai, eskalasi ketegangan antara AS dan Iran pada akhir pekan kemarin memicu keraguan terhadap kesepakatan damai keduanya, meski kedua belah pihak dikabarkan tetap berkomitmen menggelar dialog lanjutan di Qatar pada pekan ini.
“Serangan yang kembali terjadi selama akhir pekan memicu kekhawatiran yang lebih tinggi tentang kerapuhan kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran,” ujar Ibrahim saat dikonfirmasi, Selasa (30/6/2026).
Ibrahim menambahkan bahwa para pelaku pasar saat ini tengah menantikan rilis beberapa indikator ekonomi pada awal Juli, yaitu data neraca perdagangan Indonesia serta angka inflasi.
Dua data ekonomi tersebut dinilai akan menjadi acuan penting untuk mengukur situasi ekonomi domestik sekaligus memprediksi arah laju rupiah berikutnya.
Ibrahim memperkirakan laju rupiah pada hari ini akan berjalan dinamis, namun berpotensi berakhir menguat dalam kisaran Rp 17.800 – Rp 17.860 per dolar AS.