Stres dan Kecemasan Bisa Turunkan Kualitas Sperma serta Sel Telur

Senin, 29 Juni 2026 | 23:32:01 WIB
Ilustrasi - Kecemasan kronis. (Foto: NET)

JAKARTA - Ketua dan Direktur Pelaksana klinik kesuburan Gaudium IVF di Delhi, India, Dr. Manika Khanna menyatakan bahwa rasa cemas berlebih mampu memengaruhi kualitas sel telur serta sperma bagi pasangan yang tengah menjalani program kehamilan.

Berdasarkan laporan Hindustan Times pada Minggu (28/6), Khanna menjelaskan dirinya kerap menangani pasien yang merasa khawatir terhadap dampak stres bagi peluang kehamilan mereka.

Menurut ahli tersebut, kecemasan pada pria maupun wanita berdampak langsung pada sel telur dan sperma mereka. Proses ini diawali oleh hormon kortisol, di mana kondisi kecemasan kronis memicu tubuh untuk memproduksi kortisol dalam jumlah yang terlampau tinggi.

“Kortisol tinggi pada wanita dapat mengganggu kelenjar yang bertanggung jawab atas ovulasi, hipotalamus. Biomarker stres dikaitkan dengan waktu konsepsi alami yang lebih lambat pada wanita. Kortisol juga dapat mengganggu pematangan sel telur dengan memengaruhi kadar dua hormon yang memungkinkan perkembangan sel telur, yaitu hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinizing (LH),” kata Khanna.

Hal yang sama berlaku pada pria, di mana stres berkepanjangan memicu penurunan kadar testosteron yang berakibat langsung pada berkurangnya jumlah serta pergerakan (motilitas) sperma. Keadaan emosional yang buruk ini mampu mengganggu tingkat keberhasilan kesuburan melalui penurunan kesehatan sperma dan sel telur.

“Stres itu sendiri biasanya tidak menyebabkan infertilitas. Yang terjadi adalah stres menyebabkan kelainan hormonal dan perubahan perilaku,” kata Khanna.

Artinya, pengaruh kecemasan terhadap kesuburan tidak hanya sebatas pada masalah hormon atau kortisol saja. Rasa cemas juga mampu memengaruhi pola perilaku harian yang krusial selama periode konsepsi, mulai dari pola tidur, asupan nutrisi, hingga kedisiplinan dalam menjalani pengobatan medis. 

Gangguan yang terjadi secara terus-menerus ini lambat laun dapat memperkecil peluang kesuburan.

Khanna pun berpendapat bahwa adanya gangguan yang berulang pada pola hidup tersebut justru memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap kesuburan ketimbang hormon stres itu sendiri.

Tekanan emosional dan kecemasan sebenarnya dapat dikendalikan. Penerapan kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten bahkan mampu memberikan pengaruh besar dalam menurunkan tingkat stres. 

Dokter tersebut menyarankan latihan napas selama 10 menit rutin setiap hari, olahraga dengan intensitas sedang seperti jalan cepat atau yoga, membangun komunikasi yang transparan dengan pasangan guna menekan kecemasan terkait performa, serta memanfaatkan layanan konseling profesional apabila rasa cemas sudah terasa sulit dikendalikan.

Pakar medis tersebut menegaskan bahwa kecemasan merupakan kondisi yang bisa diatasi. Ia memperhatikan bahwa dengan menyelipkan rutinitas kesehatan mental yang sederhana, seseorang bisa merasakan perubahan yang sangat besar.

Khanna juga menganjurkan penerapan aktivitas kesehatan mental yang sederhana namun dilakukan secara konsisten untuk mengendalikan kecemasan. 

Langkah tersebut dapat berupa latihan pernapasan penuh kesadaran selama 10 menit tiap hari, olahraga ringan seperti yoga atau jalan cepat, mempertahankan komunikasi yang terbuka bersama pasangan, serta berkonsultasi dengan konselor profesional saat kecemasan dirasa sudah mulai berlebihan.

Terkini