JAKARTA - Bagi sebagian pria, mendekati wanita bisa menjadi hal yang menakutkan karena berbagai alasan, salah satunya adalah ketidaktahuan tentang bagaimana cara memulai percakapan.
Bagaimana jika ada yang menawarkan solusi atas persoalan tersebut lewat sebuah kamp pelatihan dengan biaya mencapai ribuan dollar AS atau setara puluhan juta rupiah? Peluang bisnis ini dimanfaatkan oleh Matt Artisan di Nashville, Amerika Serikat, melalui boot camp yang didirikannya.
Selama tiga hari, para peserta mengikuti pelatihan intensif yang diklaim dapat membantu mereka membangun kepercayaan diri saat berinteraksi dengan wanita.
Pelatihan ini akan dipandu oleh para pick-up artist yang merujuk kepada orang-orang dengan peran sebagai mentor atau pelatih bagi para laki-laki untuk bisa merayu wanita. Menurut laporan CNN, budaya pick-up artist ini sebenarnya sudah berkembang sejak awal 2000-an. Namun, motivasi pria yang mengikuti pelatihan seperti ini kini jauh berbeda.
Salah satu peserta yang bernama Brandon Viall, mengatakan banyak pria datang bukan semata-mata ingin mendapatkan pacar. Semenjak pandemi, banyak pria ini yang merasa semakin kesulitan untuk bisa menjalin hubungan dengan orang lain.
Jeff Whittington, misalnya, mengikuti program tersebut karena merasa terlalu lama terjebak sebagai "pria baik" yang selalu berakhir di zona pertemanan. Sementara itu, Steve Crook mengaku sudah mencoba berbagai cara untuk bertemu wanita, mulai dari mengikuti kelas salsa, bermain pickleball, bahkan bergabung dengan klub berlayar, tetapi tetap kesulitan membangun koneksi.
"Kita sedang mengalami epidemi kesepian. Kami memang terhubung lewat semua layar ini, tetapi apakah itu benar-benar sebuah hubungan?" kata Brandon kepada CNN.
Data Pew Research Center tahun 2024 menunjukkan pria lebih jarang mencari dukungan kepada teman, keluarga, maupun tenaga kesehatan mental ketika mengalami kesepian.
Sementara itu, sebagian pria di Amerika Serikat ini menyalahkan faktor-faktor seperti polarisasi politik, aplikasi kencan, dan perubahan dinamika hubungan setelah gerakan #MeToo yang membuat mereka merasa semakin canggung memulai percakapan dengan wanita.
Di bawah arahan Matt Artisan, peserta tidak langsung diajarkan kalimat-kalimat untuk merayu wanita. Mereka diajak untuk terlebih dahulu membangun keberanian memulai interaksi dengan orang asing.
Selama pelatihan, peserta mempelajari berbagai pendekatan seperti cold approach, day game, dan night game, sebelum diminta mempraktikkannya langsung di pusat perbelanjaan maupun kawasan hiburan di Nashville.
Salah satu tugas paling sederhana adalah memberikan pujian kepada wanita yang tidak mereka kenal. Bagi Matt, keberhasilan bukan diukur dari berhasil atau tidaknya mendapatkan nomor telepon seseorang, tapi dari keberanian para peserta untuk bisa menghadapi penolakan dan membangun rasa percaya diri.
"Kami ingin mengubah mereka selama proses ini. Kami ingin mereka menjadi pribadi yang lebih baik karena dengan begitu mereka juga akan mendapatkan pengalaman berkencan yang lebih baik," ujar Matt kepada CNN.
Selain belajar mengobrol, pelatihan ini juga menyentuh hal-hal yang lebih personal. Peserta mendapat masukan mengenai penampilan, bahasa tubuh, cara berdiri, intonasi suara, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang dinilai memengaruhi kesan pertama.
Meski Matt menegaskan pendekatannya mengutamakan rasa hormat terhadap wanita dan pengembangan diri, program tersebut tetap menuai kritik.
CNN melaporkan bahwa seluruh interaksi peserta dengan wanita direkam untuk bahan evaluasi tanpa memberi tahu wanita yang diajak berbicara, meski Matt mengatakan rekaman itu hanya digunakan sebagai materi pembelajaran dan tidak dipublikasikan.
Selain itu, sejumlah materi yang dibawakan Matt sesekali diselipi lelucon yang dinilai mengobjektifikasi wanita. Hal tersebut pun memunculkan perdebatan karena bertolak belakang dengan citra pelatihan yang menekankan peningkatan kualitas diri.