Arron Bryan, Desainer Muda Asal Papua Raih Gelar FFD 2026

Minggu, 28 Juni 2026 | 19:17:01 WIB
Arron Bryan, Desainer Muda Asal Papua. [Foto: NET]

JAKARTA - Memulai langkah dari Jayapura, Papua, Arron Bryan Fernaldy Wongso secara bertahap merintis jalannya sendiri dalam industri mode tanah air. 

Usai mengoleksi beragam penghargaan sepanjang masa perkuliahan, perancang busana muda ini sekarang mencetak prestasi baru lewat perolehan gelar Future Fashion Designer (FFD) 2026, sebuah ajang kompetisi yang dibuat guna menguji kesiapan para desainer muda dalam memasuki dunia kerja riil.

Keberhasilan tersebut tidak didapatkan hanya lewat satu kreasi semata. Sepanjang dua minggu, Arron wajib melewati rangkaian rintangan yang menguji daya cipta, kecakapan teknis, hingga metode pengambilan keputusan di bawah tekanan. 

Keteguhannya pada tiap tahapan pada akhirnya mengantarkan dirinya keluar sebagai juara utama.

Bagi Arron, berpartisipasi dalam FFD menyimpan esensi yang lebih mendalam ketimbang sekadar memburu gelar juara ajang bergengsi. 

Dirinya memandang kompetisi itu sebagai peluang untuk melepaskan diri dari rutinitas sekaligus menakar kapabilitas yang sudah diasahnya selama ini.

"Penghargaan-penghargaan di bidang fashion yang saya dapatkan menjadi pondasi dan modal saya untuk terus terjun dan berkembang di dunia mode. 

Saya percaya bahwa proses belajar dan berkembang tidak pernah berhenti," ujar Arron kepada Kompas.com

Berdasarkan pandangannya, FFD menjadi tempat untuk mencicipi pengalaman baru, menambah relasi profesional, sekaligus menantang dirinya sendiri supaya dapat terus tumbuh dan memberikan andil bagi industri fashion tanah air.

Alumnus Susan Budihardjo Fashion Forward Institute tahun 2025 tersebut sejatinya sudah mengumpulkan sederet prestasi, mulai dari Best Student, Best Presentation, Best in Fabric Manipulation, Best Pattern & Sewing Technique, hingga Juara Tim Kelana Wastra 2024. 

Dirinya juga sudah tampil pada bermacam peragaan busana, seperti IN2MOTIONFEST, JF3, SPOTLIGHT, serta mengelola bisnis desain kustom sejak tahun 2022.

FFD 2026 sendiri ialah program hasil kerja sama JF3 dan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute yang bergulir pada 12-26 Mei 2026. Dari total puluhan pelamar, cuma delapan kontestan yang lolos untuk mengikuti program padat selama 14 hari.

Dalam jangka waktu tersebut, para kontestan diminta merampungkan lima tantangan berbeda yang menyerupai alur kerja seorang perancang busana profesional, seperti riset konsep, penyusunan anggaran, penentuan material, pembuatan pola, produksi, penataan gaya, dan presentasi di depan dewan juri.

Kelima rintangan itu mencakup Prototype, The Curve, Re'Heritage, Multifunction, serta Opposite. Tiap-tiap tantangan ini dikonsepkan demi menguji aspek yang berbeda.

Tantangan Re’Heritage sebagai contoh, menuntut kontestan untuk mengangkat warisan budaya tanah air lewat pendekatan yang lebih modern dengan mengandalkan teknik cetak digital. Guna menambah level kesulitan, kontestan diwajibkan memakai motif yang asli, non-repetitif, dan kontras dari cetak kain buatan pabrik.

Arron mengungkapkan bahwa rintangan paling berat sepanjang kompetisi ialah mewujudkan rancangan dalam tempo yang amat terbatas.

"Tantangan terbesar yang saya hadapi selama kompetisi adalah membuat desain dan merealisasikannya dalam waktu yang singkat. Dalam waktu yang terbatas, saya harus menghasilkan karya yang tidak hanya selesai tepat waktu, rapi, tetapi juga berkesan," tutur Arron.

Oleh sebab itu, sewaktu tantangan berjalan dirinya memilih untuk tetap berkepala dingin, menyusun skala prioritas kerja secara sistematis, dan mengelola waktu seefektif mungkin agar mutu karya tetap aman.

Terkini