AirAsia Hapus Penerbangan Langsung Jakarta-Singapura per 1 Juli 2026

Minggu, 28 Juni 2026 | 18:38:01 WIB
maskapai air asia. [Foto: NET]

JAKARTA — Maskapai AirAsia bakal menyetop rute penerbangan langsung Singapura-Jakarta terhitung mulai 1 Juli 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari rencana optimalisasi jaringan perusahaan di tengah membengkaknya biaya operasional, yang utamanya dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar pesawat. 

Akibat dari kebijakan baru ini, para pelancong dari Indonesia yang bepergian menggunakan maskapai AirAsia untuk rute Jakarta-Singapura diwajibkan untuk melakukan transit terlebih dahulu melalui Kuala Lumpur. 

Durasi perjalanan yang biasanya memakan waktu kurang dari 2 jam kini berpotensi molor hingga di atas 10 jam, tergantung pada lamanya waktu transit.

Chief Executive Officer AirAsia X Group Bo Lingam mengungkapkan bahwa maskapai saat ini sedang mengalihkan kapasitas armada pesawat ke sejumlah rute yang diproyeksikan mempunyai prospek permintaan serta margin profit yang lebih menjanjikan. 

"Kami memanfaatkan layanan transit melalui Kuala Lumpur dan hub lainnya untuk menangkap permintaan secara lebih efisien," ujarnya, dinukil dari The Straits Times, Minggu (28/6/2026).

Dipaparkan oleh Bo Lingam, peninjauan ulang terhadap jaringan penerbangan senantiasa dijalankan secara berkala dengan memantau pergerakan dinamika permintaan pasar beserta fluktuasi biaya operasional. 

Langkah penyesuaian rute ini ditempuh demi menjaga kesinambungan bisnis maskapai sekaligus menekan potensi gangguan terhadap para pengguna jasa.

Keputusan penghentian rute penerbangan ini tetap dieksekusi sekalipun pasar penerbangan untuk rute Jakarta–Singapura terhitung masih sangat padat. 

Setidaknya, masih ada tujuh perusahaan maskapai, termasuk di antaranya Scoot dan Citilink, yang tetap mengoperasikan sekitar 31 penerbangan langsung setiap harinya pada koridor tersebut.

Berdasarkan data dari OAG Aviation, eksistensi Indonesia AirAsia di pasar penerbangan Singapura memang terpantau terus mengalami penurunan. 

Di sepanjang bulan Juni 2026, total frekuensi penerbangan untuk rute Singapura–Jakarta tercatat hanya mencapai 30 penerbangan, merosot tajam bila disandingkan dengan capaian periode yang sama pada tahun sebelumnya yang menyentuh angka 104 penerbangan. 

Setali tiga uang, kapasitas kursi yang tersedia juga menyusut drastis dari kisaran 36.000 kursi pada Juni 2025 menjadi tersisa sekitar 5.400 kursi saja pada Juni 2026. Sebelum kebijakan ini, Indonesia AirAsia pun sudah lebih dulu menyetop layanan penerbangan langsung untuk rute Singapura–Bali pada bulan April 2026.

Menurut penilaian analis penerbangan independen Brendan Sobie, taktik mengalihkan rute penumpang via Kuala Lumpur tersebut sengaja dirancang untuk mendongkrak tingkat keterisian kursi pada jaringan penerbangan AirAsia yang telah beroperasi. 

Kendati demikian, daya pikat strategi ini bagi konsumen terbilang terbatas lantaran pasar masih menyediakan banyak opsi penerbangan langsung dengan tarif murah.

Pada kesempatan lain, Commercial and Industry Lead Asia-Pacific OAG Aviation Mayur Patel berpendapat bahwa penutupan rute ini menjadi cerminan dari kian merosotnya taji Indonesia AirAsia di pasar Singapura. 

Menurut pandangannya, lonjakan harga bahan bakar avtur yang dipicu oleh konflik di wilayah Timur Tengah serta peningkatan risiko keamanan pada jalur pelayaran di Selat Hormuz turut mempercepat langkah maskapai untuk mengakhiri rute-rute dengan margin keuntungan yang tipis.

Di sudut pandang berbeda, pendiri Endau Analytics Shukor Yusof melihat bahwa hambatan yang dihadapi oleh Indonesia AirAsia juga dipengaruhi oleh perolehan pangsa pasar domestiknya yang tergolong kecil, yaitu berada di kisaran 5%. 

Kondisi pelik tersebut, menurut analisisnya, menggambarkan tantangan yang lebih masif di internal AirAsia Group setelah korporasi melakukan ekspansi bisnis ke sektor layanan digital dan aplikasi super (super app) tatkala pandemi Covid-19 melanda.

Terkini