Bea Masuk LPG 0% Bisa Dongkrak Utilisasi Industri Plastik ke 90%

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:20:32 WIB
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono. [Foto: NET]

JAKARTA - Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) memberikan respons positif terhadap langkah pemerintah yang menggratiskan bea masuk impor liquefied petroleum gas (LPG) hingga 0% bagi kebutuhan bahan baku petrokimia. 

Langkah ini dianggap mampu memperkokoh ketersediaan stok bahan baku sekaligus membuka jalan bagi kenaikan utilisasi pada industri plastik.

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, memaparkan bahwa penghapusan bea masuk ini menjadi regulasi anyar yang memfasilitasi sektor industri untuk mengoptimalkan LPG sebagai opsi bahan baku pengganti di luar nafta.

"Yang dibebaskan bea masuk ini adalah LPG untuk bahan baku petrokimia, bukan untuk energi. Selama ini sebenarnya teknologi kami sudah siap menggunakan LPG, tetapi secara keekonomian belum masuk karena masih dikenakan bea masuk," ujar Fajar kepada Kontan, Minggu (28/6/2026).

Berdasarkan penjelasannya, sektor petrokimia sejauh ini masih mengandalkan nafta. Saat ketersediaan nafta dari Timur Tengah sedang bergolak, LPG hadir sebagai opsi pengganti yang mumpuni untuk menyokong proses manufaktur.

Fajar mengungkapkan bahwa infrastruktur pabrik yang ada saat ini sudah didesain agar mampu mengadopsi LPG guna menggantikan peran nafta dengan porsi berkisar 30% hingga 40%. 

Berkat regulasi bea masuk 0% tersebut, para pebisnis kini bisa memulai kesepakatan bisnis dengan para penyedia LPG. Dia memproyeksikan stok LPG untuk keperluan petrokimia ini akan mulai mengalir masuk ke tanah air sekitar bulan Agustus sampai November 2026.

"Kami berharap ini dapat memperkuat ketahanan pasokan bahan baku petrokimia sehingga industri menjadi lebih fleksibel dalam menentukan feedstock yang paling ekonomis," katanya.

Ia melanjutkan, kehadiran variasi bahan baku tersebut turut membuka peluang melonjaknya utilisasi industri plastik hingga melampaui angka 90%. 

Kendati demikian, pencapaian tersebut nantinya tetap akan bergantung pada situasi pasar global serta rivalitas dengan barang-barang impor.

"Kalau bahan bakunya lebih banyak tentu utilisasi bisa meningkat. Namun nanti tetap kami hitung keekonomiannya dan bagaimana persaingan dengan produk impor," ujarnya.

Fajar pun berpendapat bahwa regulasi baru ini tidak otomatis memicu merosotnya harga jual produk plastik. 

Menurut dia, pihak pabrikan bakal mengombinasikan bahan baku yang dirasa paling efisien, menyesuaikan fluktuasi harga LPG, nafta, ataupun kondensat di pasar global.

Di waktu sebelumnya, otoritas menteri menerapkan tarif bea masuk 0% atas impor LPG khusus konsumsi industri petrokimia. Kebijakan ini merupakan bagian dari stimulus guna memelihara level kompetitif industri domestik di tengah situasi global yang tidak menentu. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan lewat regulasi ini diharapkan muncul dampak ekonomi bernilai kurang lebih Rp 2,25 triliun dari pangkasan ongkos produksi serta dampak domino yang positif bagi finansial nasional.

Terkini