Alasan Medis Mengapa Kehadiran Seseorang Bisa Membuatmu Merasa Tenang

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:33:01 WIB
Ilustrasi - Sosok yang Menenangkan. (Foto: NET)

JAKARTA - Pernahkah Anda merasa kedamaian yang luar biasa hanya dengan berada di dekat seseorang tanpa dia perlu mengucapkan sepatah kata pun? Raut wajah serta bahasa tubuh mereka seakan mampu meredakan ketegangan fisik dan menenteramkan pikiran Anda yang sedang dilanda kekalutan. 

Walaupun kerap dinilai sebagai bentuk kecocokan karakter belaka, fenomena yang menenangkan ini sesungguhnya mempunyai penjelasan secara medis yang disebut dengan istilah koregulasi.

Manusia sejak usia bayi hingga dewasa sangat bergantung pada relasi yang aman serta suportif dalam menjalankan proses tersebut guna meringankan tekanan emosional. 

"Saya suka menganggap koregulasi sebagai 'meminjam' sistem saraf yang teratur," kata terapis komunikasi sekaligus pendiri Empower Family Therapy, Tina Shrader, LMFT, mengutip Real Simple, Kamis (25/6/2026).

Sistem saraf pada tubuh manusia pada dasarnya mempunyai mekanisme unik untuk saling menyelaraskan satu sama lain. Anda dapat menjadi jauh lebih rileks ketika berada di dekat orang yang tenang, begitu pula hal yang sebaliknya.

Shrader menerapkan interaksi antara orang tua dan bayi sebagai analogi paling mendasar dalam menerangkan fenomena yang menular tersebut. 

"Ketika seorang bayi kesal, orangtua mungkin Shrader mereka, mendiamkan mereka, memeluk mereka, atau berbicara dengan lembut," jelas dia. 

"Tetapi, yang sebenarnya paling penting adalah kemampuan orangtua untuk tetap teratur (tenang). Bayi itu meminjam ketenangan tersebut," lanjut Shrader.

Shrader menegaskan bahwa proses tersebut sangatlah berbeda dengan sekadar empati maupun dukungan emosional yang sering kali diberikan lewat kata-kata manis atau tindakan nyata. Empati merupakan langkah memahami apa yang dirasakan oleh orang lain, sedangkan dukungan emosional adalah menyajikan kenyamanan, kepastian, ataupun bantuan fisik. 

"Koregulasi terjadi pada tingkat sistem saraf. Ini bukan tentang apa yang kamu katakan, tetapi lebih kepada apakah kehadiranmu mengkomunikasikan keamanan," jelas Shrader.

Secara konstan, otak dan tubuh terus memindai sinyal-sinyal keamanan ataupun bahaya dari lingkungan sekeliling, mulai dari intonasi suara hingga bahasa tubuh. Ketika seseorang merasakan keamanan, detak jantung serta ritme pernapasan akan melambat secara alami. 

Melalui pemindaian otak, aktivitas pada sirkuit saraf yang berkaitan dengan ancaman, contohnya area dorsolateral prefrontal cortex, terbukti berkurang drastis saat ada figur yang tenang di dekatnya. Pelepasan hormon oksitosin dalam interaksi sosial yang aman juga ikut membantu meredam sistem alarm kewaspadaan di dalam tubuh.

Namun, proses yang saling memengaruhi ini dapat berbalik menjadi bumerang apabila batasan interpersonal tidak jelas, sehingga memicu pola interaksi tidak sehat ketika Anda justru menyerap seluruh emosi negatif orang lain layaknya spons. 

"Koregulasi yang sehat berarti kami terpengaruh satu sama lain, tetapi kami tidak kehilangan diri kami satu sama lain," terang Shrader. 

"Koregulasi yang tidak sehat terjadi ketika suasana hati satu orang sepenuhnya menentukan suasana hati orang lain," lanjut dia.

Tujuan utama dari koregulasi bukanlah agar tidak terpengaruh oleh orang-orang yang Anda sayangi, melainkan untuk tetap terhubung dengan pengalaman emosional orang lain tanpa harus sepenuhnya terseret ke dalamnya.

Apabila Anda berkeinginan menjadi sosok yang menenangkan bagi pasangan maupun sahabat, kuncinya sesungguhnya bukan terletak pada seberapa indah kalimat yang Anda rangkai. Tahapan awal yang paling krusial adalah menstabilkan emosi diri Anda sendiri terlebih dahulu. 

"Kebanyakan orang mencoba melakukan koregulasi dengan berfokus pada emosi orang lain. Kenyataannya, hal terbaik yang sering bisa kamu lakukan adalah tetap terhubung dengan keteraturanmu sendiri," tutur Shrader.

Langkah ini dapat Anda mulai dengan menarik napas secara perlahan, memfokuskan pikiran pada kondisi saat ini, serta lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara. Redam keinginan kuat untuk segera menyodorkan solusi atau menghujani mereka dengan nasihat. 

"Banyak koregulasi terjadi melalui hal-hal sederhana. Nada suara yang tenang, duduk dekat dengan seseorang, melakukan kontak mata, menawarkan tangan untuk dipegang, atau sekadar hadir tanpa mencoba menghilangkan perasaan mereka," ungkap dia.

Terkini