Inovasi ITS: Sistem Cerdas Tekan Risiko Kecelakaan Maritim

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:55:02 WIB
Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Prof. Ir. Silvianita, ST, MSc, PhD. (Foto: NET)

JAKARTA - Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Prof. Ir. Silvianita, ST, MSc, PhD, menciptakan inovasi manajemen risiko guna meminimalisir kecelakaan maritim lewat sistem terintegrasi yang mampu meningkatkan keselamatan serta keandalan infrastruktur di sektor maritim nasional.

"Manajemen risiko bukan hanya tentang menghindari kecelakaan, tetapi memastikan setiap keputusan menghasilkan operasi yang lebih aman dan berkelanjutan," kata guru besar perempuan pertama dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.

Dosen Departemen Teknik Kelautan ITS tersebut memperkenalkan sistem terintegrasi bernama Methodology for Investigation of Critical Hazards (MIVTA) dan Methodology for Investigation of Risk-Based Maintenance (MIRBA) yang ia rancang untuk pengelolaan risiko di sektor maritim.

"MIVTA digunakan untuk menemukan potensi bahaya sejak dini, sedangkan MIRBA membantu menentukan langkah mitigasi paling tepat agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan," ujarnya. 

MIVTA bekerja dengan mengidentifikasi beragam potensi bahaya dalam suatu operasi, melacak penyebab utama, serta menilai probabilitas dan tingkat dampak yang ditimbulkan. Proses tersebut menjadi landasan untuk menetapkan prioritas risiko yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Guna memaksimalkan fungsinya, Silvianita menyematkan metode Fuzzy Logic ke dalam sistem tersebut. Menurutnya, metode ini memungkinkan kondisi yang sulit diukur secara pasti untuk diolah menjadi nilai yang lebih objektif. 

"Dengan ini, kami bisa menangkap ketidakpastian di lapangan yang selama ini sulit dikuantifikasi," katanya. 

Hasil pemeringkatan risiko dari MIVTA selanjutnya diproses melalui MIRBA. Dengan mengombinasikan berbagai metode analisis, MIRBA membantu menentukan tindakan pencegahan dan strategi perawatan yang tepat sesuai tingkat risiko yang teridentifikasi.

Kedua metodologi ini tidak sekadar berfungsi sebagai alat analisis risiko, melainkan juga berperan sebagai kerangka pengambilan keputusan yang lebih terukur. Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan infrastruktur maritim dapat dijalankan secara lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan. 

Silvianita menegaskan bahwa pengelolaan risiko tidak boleh hanya dianggap sebagai dokumen administratif, tetapi harus menjadi elemen krusial dalam strategi organisasi guna meningkatkan keselamatan, keandalan, dan keberlanjutan infrastruktur maritim.

Metode tersebut telah diimplementasikan pada proses pemindahan anjungan lepas pantai ke kapal pengangkut (loadout), yang merupakan salah satu tahapan berisiko tinggi dalam industri maritim. 

Hasilnya, sistem ini mampu mengidentifikasi sejumlah risiko prioritas yang berpotensi memicu kecelakaan kerja. 

Melalui MIVTA dan MIRBA, identifikasi, evaluasi, serta mitigasi risiko dapat dilakukan lebih terukur sehingga potensi kecelakaan kerja maupun kegagalan operasional mampu ditekan sejak tahap perencanaan.

Inovasi ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada tujuan kedelapan mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, tujuan kesembilan terkait industri, inovasi, dan infrastruktur, serta tujuan ke-14 mengenai ekosistem laut. 

Silvianita berharap MIVTA dan MIRBA dapat diadopsi secara luas oleh industri minyak dan gas bumi serta sektor maritim nasional agar evaluasi risiko proyek dapat berlangsung lebih terstruktur.

Terkini