Mulai 2027, Garuda Indonesia Tak Lagi Terbang Kosong dari Arab Saudi

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:43:32 WIB
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak. (Foto: NET)

JAKARTA – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak memaparkan bahwa Garuda Indonesia telah resmi memperoleh izin dari otoritas penerbangan Arab Saudi (GACA) untuk mengangkut penumpang dalam penerbangan pulang setelah melayani jemaah haji ke Tanah Air.

"GACA memberikan izin kepada penerbangan kami, dalam hal ini Garuda Indonesia, untuk mengisi empty leg. Jadi, pesawat-pesawat Garuda yang pulang ke Tanah Air ketika membawa jemaah haji itu tidak kosong, bisa membawa penumpang," ujar Dahnil seusai rapat koordinasi di Gedung Kementerian Haji, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurut Dahnil, kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden dan bakal mulai diterapkan pada musim haji tahun depan. 

"Nah, oleh sebab itu kami akan mulai instruksi Presiden itu tahun depan, musim haji berikutnya, pesawat-pesawat kami yang membawa jemaah haji pulangnya itu bisa lagi membawa penumpang," ucapnya.

Ia menjelaskan, para penumpang yang diterbangkan dari Arab Saudi diharapkan merupakan wisatawan mancanegara yang hendak berkunjung ke Indonesia. 

Oleh karena itu, Kementerian Haji dan Umrah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pariwisata guna mempromosikan berbagai destinasi wisata Indonesia ke pasar Timur Tengah, utamanya Arab Saudi.

"Penumpangnya inilah yang kemudian kami bicarakan dengan Kementerian Pariwisata supaya mendorong pariwisata kami, obyek wisata kami di Indonesia itu bisa dijual ke masyarakat Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia," jelasnya.

Dahnil mencatat, setiap tahun terdapat sekitar 3,2 juta warga Indonesia yang bertolak ke Arab Saudi, yang mencakup 3 juta jemaah umrah dan 221.000 jemaah haji. Tingginya mobilitas tersebut menyebabkan aliran dana keluar (cash outflow) ke Arab Saudi mencapai Rp120 triliun hingga Rp180 triliun per tahun.

"Nilai uang yang beredar dan ikut berangkat ke Saudi Arabia itu sekitar Rp120 triliun sampai Rp180 triliun. Itu menjadi konsen Presiden supaya cash outflow itu tidak terlalu besar," katanya.

Di samping memajukan sektor pariwisata, pemerintah turut berupaya memperkuat posisi Garuda Indonesia sebagai maskapai nasional pilihan utama bagi jemaah umrah. 

"Kami ingin mendorong agar Garuda itu bisa menjadi national flight yang kuat supaya maksimal melayani jemaah umrah," tegas Dahnil.

Pemerintah menargetkan setidaknya 50 persen dari tiga juta jemaah umrah Indonesia dapat menggunakan layanan Garuda dengan standar pelayanan yang lebih optimal serta harga yang kompetitif. 

"Makanya, tiga juta jemaah umrah itu kami berharap 50 persennya bisa diterbangkan oleh Garuda, tentu dengan pelayanan yang jauh lebih baik dan harga yang juga ekonomis serta efisien," pungkasnya.

Terkini