Ekspor Perdana 28 Ton Lidi Sawit ke China, Petani Raih Cuan Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:51:01 WIB
Ilustrasi - Lidi sawit. (Foto: NET)

JAKARTA - Lidi sawit yang lazim dipandang sebagai sisa perkebunan kini mulai menciptakan nilai ekonomi segar bagi para petani. Sebanyak 28 ton lidi sawit dari Riau, Sumatera Utara, dan Aceh telah dikirim perdana ke China. 

Langkah ini tidak hanya membuka peluang pasar baru bagi produk turunan sawit, tetapi juga berpotensi meningkatkan penghasilan sekitar 2.800 anggota koperasi petani yang terserap dalam rantai pasoknya. 

Pengiriman tersebut dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia pada Rabu (17/6/2026).

Sebanyak 28 ton lidi sawit dari perkebunan tersebut diberangkatkan menuju China dari Sumatera. Produk ini dihimpun oleh petani sawit, pelaku UMKM, serta koperasi anggota ASPEKPIR sebagai output dari rangkaian program pemberdayaan UMKM dan koperasi yang dijalankan ASPEKPIR bersama BPDP. 

Dalam inisiatif ini, ASPEKPIR menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir yang akan memasarkan produk ke pasar global.

Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Anwar Sadat, menyatakan bahwa lidi sawit memiliki prospek cerah untuk diolah menjadi beragam produk bernilai ekonomi, dari bahan baku ekspor hingga kerajinan tangan oleh UMKM daerah. 

“BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” ujarnya lewat keterangan pers, Sabtu (20/6/2026).

BPDP sendiri memiliki beragam program untuk memperkuat kapasitas dan produktivitas petani sawit, seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), sarana prasarana, pengembangan SDM perkebunan, hingga penelitian serta promosi komoditas. 

Ekspor perdana ini membuktikan bahwa sawit merupakan komoditas inklusif yang manfaatnya dirasakan oleh petani, UMKM, koperasi, hingga pelaku ekspor. 

“Rantai pasok produksi lidi sawit melibatkan banyak pihak, dari petani, pengrajin, koperasi, dan pelaku ekspor, sehingga dapat memberikan efek ganda bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi di daerah,” paparnya.

BPDP telah lama mempromosikan nilai tambah produk samping kelapa sawit. Kerja sama dengan ASPEKPIR dijalankan melalui workshop dan diseminasi sejak 2024 di berbagai wilayah, mulai dari Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Pasangkayu.

Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono, menambahkan bahwa pelepasan ekspor ini merupakan tindak lanjut program pemberdayaan UMKM di Riau dan Sumatera Utara. Sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku, dengan manfaat yang diperkirakan menjangkau 2.800 anggota koperasi. 

“Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan,” kata Setiyono.

Direktur Utama PT Arra Setya Abadi, Ilham Setiadi, menjelaskan bahwa sejak akhir 2024, pihaknya bersama ASPEKPIR dan BPDP terus melakukan pendampingan ekspor lidi sawit. 

Permintaan pasar internasional yang terus meningkat membuat peluang usaha ini terbuka lebar bagi petani dan UMKM. Pengembangan produk ini membuktikan sektor sawit mampu mendukung ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan, sekaligus mengurangi limbah serta menambah pendapatan masyarakat sekitar perkebunan.

Terkini