JAKARTA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyatakan bahwa inovasi pengembangan jaringan gas bumi (jargas) non-pipa atau beyond pipeline menjadi langkah konkret untuk memperluas jangkauan akses energi yang bersih serta ekonomis bagi masyarakat.
Ia menjelaskan dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, bahwa kini masyarakat semakin mudah memperoleh akses terhadap energi bersih. Melalui terobosan compressed natural gas (CNG) clustering atau beyond pipeline, distribusi gas bumi dapat dilakukan hingga ke daerah-daerah yang selama ini belum terjangkau oleh pipa transmisi.
"Inovasi ini menjadi salah satu contoh keberhasilan pemanfaatan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat secara lebih efisien, terjangkau, dan ramah lingkungan," tuturnya saat meninjau implementasi jargas berbasis CNG di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (19/6/2026).
Agenda peninjauan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memacu pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi yang lebih efisien dan bersih, serta berasal dari sumber daya lokal guna menguatkan ketahanan energi nasional.
Menurut Yuliot, progres di Sleman membuktikan bahwa pemerataan akses energi tidak harus menunggu pembangunan jaringan pipa gas bumi.
"Jadi, untuk tahun 2026 ini, kami ada target 160.000 satuan sambungan rumah tangga di berbagai kota. Ini akan dilakukan proses percepatan. Untuk lelangnya baru akan dilakukan pada akhir Juli ini. Jadi, secara teknis, ada kajian untuk kesiapan masing-masing kota yang saat ini sedang kami selesaikan. Dan, 160.000 satuan rumah tangga ini ada di Pulau Jawa, ada di Sumatera, ada di Kalimantan, dan juga tergantung dari kedekatan sumber gas untuk daerah yang bersangkutan," ujar Yuliot.
Di Sleman, operasional jargas berbasis CNG sudah melayani 4.545 sambungan rumah tangga, empat pelanggan komersial, dan enam pelanggan kecil. Dukungan infrastruktur yang ada meliputi jaringan distribusi sepanjang lebih dari 141 kilometer untuk memastikan penyaluran gas bumi yang andal serta aman bagi warga.
Tingkat penyaluran gas bumi bagi pelanggan di Sleman rata-rata mencapai 84 ribu meter kubik per bulan, yang setara dengan pemanfaatan sekitar 64 metrik ton LPG tiap bulannya.
Kedepannya, layanan ini akan terus diekspansi untuk mendukung sektor produktif lainnya, seperti hotel, restoran, UMKM, hingga fasilitas kesehatan. Salah satu pelanggan komersial, Rumah Makan Payakumbuah di Yogyakarta, melaporkan mampu menekan biaya energi hingga 33 persen dibandingkan sebelumnya.
"Tahun depan, dari pembiayaan APBN, kami akan tingkatkan totalnya menjadi 1 juta satuan sambungan rumah. Jadi, ini juga lagi kami persiapkan untuk anggaran tahun 2027. Untuk tahun 2028, itu sudah bisa untuk 1 juta satuan sambungan rumah terlaksana. Jadi, yang 160.000 sambungan itu bisa melayani masyarakat," kata Yuliot.
Saat ini, pengelolaan jargas telah menyentuh 827 ribu sambungan rumah yang tersebar di 74 kabupaten/kota dan 18 provinsi. Melalui RPJMN 2026-2029, pemerintah menargetkan pengembangan sekitar 350 ribu sambungan rumah setiap tahunnya.
Direktur Utama PGN Arief K Risdianto menyampaikan apresiasinya atas dukungan Kementerian ESDM dan para pemangku kepentingan lainnya. Ia menekankan bahwa proyek ini membuktikan CNG clustering efektif memperluas akses gas bumi tanpa harus menunggu jaringan pipa utama.
"Masyarakat tidak perlu khawatir terkait keamanan, karena CNG yang bertekanan tinggi sekitar 200 bar telah disesuaikan dengan sistem klaster agar mengalir dengan aman ke dapur-dapur rumah tangga," katanya.
Arief menambahkan, berkat teknologi pengaturan tekanan (PRS) dan pengawasan ketat, aliran gas ke rumah tangga dipastikan aman untuk penggunaan harian.
Selain memberi kemudahan bagi rumah tangga, inisiatif jargas ini merupakan langkah nyata dalam menekan beban subsidi energi dan mengurangi ketergantungan pada impor LPG, sekaligus meningkatkan efisiensi sektor produktif serta menggerakkan ekonomi daerah.