WOOD Targetkan Pertumbuhan 10% Lewat Diversifikasi Pasar

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:56:02 WIB
PT Integra Indocabinet Tbk. (WOOD). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Integra Indocabinet Tbk. (WOOD) menargetkan pertumbuhan pendapatan secara tahunan (year-on-year/YoY) di rentang 5% hingga 10% pada tahun buku 2026. Upaya ini dilakukan melalui strategi diversifikasi pasar yang agresif untuk menurunkan ketergantungan perusahaan terhadap Amerika Serikat (AS).

Direktur WOOD, Wang Sutrisno, menerangkan bahwa sepanjang 2025, industri furnitur ekspor tertekan oleh kebijakan tarif retaliasi AS sebesar 19% yang berdampak signifikan pada segmen knockdown furniture kelas menengah ke bawah. 

Sebagai respons, WOOD mengalihkan fokus ke produk kelas menengah ke atas (middle-up) serta memperkuat segmen komponen bangunan.

"Langkah diversifikasi ini mulai membuahkan hasil nyata. Sejak akhir 2024, WOOD memperluas ekspansi ke pasar Eropa dengan pengapalan perdana produk engineering flooring pada Juni 2025. Alhasil, dominasi pasar AS yang historisnya di atas 90% berhasil ditekan menjadi 82% pada 2025, dan kembali turun ke level 73,7% dari total penjualan atau setara dengan Rp532,13 miliar pada kuartal I/2026," ujarnya, Jumat (19/6/2026).

Sementara itu, pasar Eropa mencatatkan pertumbuhan eksponensial hingga 2.133% YoY menjadi Rp112,72 miliar. Diikuti oleh pasar Asia sebesar Rp45,90 miliar, serta pasar domestik Indonesia yang tumbuh 634% YoY menjadi Rp31,63 miliar.

Dari sisi kinerja keuangan, Wang melanjutkan, WOOD membukukan laba kotor sebesar Rp153 miliar pada kuartal I/2026. Margin laba kotor (gross profit margin/GPM) perseroan naik 0,71 percentage points (ppt) ke level 21,2% dibandingkan periode kuartal I/2025 yang berada di posisi 20,5%.

"Adapun untuk laba operasional tercatat sebesar Rp80 miliar dengan margin laba usaha (operating profit margin/OPM) sebesar 11,1%. Di sisi lain, perseroan membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp28 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, turun dari posisi kuartal I/2025 yang senilai Rp48 miliar akibat penyesuaian profitabilitas global," ungkapnya.

Hingga kuartal I/2026, fundamental neraca keuangan perseroan tetap terjaga dengan total aset melampaui Rp8 triliun, ekuitas Rp4,5 triliun, rasio lancar 1,8 kali, serta rasio utang terhadap ekuitas di angka 0,76 kali.

Selain manufaktur, Wang menyebut WOOD tengah bersiap mengamankan sumber pendapatan baru melalui transformasi bisnis kehutanan (forestry) menjadi proyek konservasi, restorasi, dan perdagangan karbon (carbon trade). Meski kontribusinya masih kecil pada kuartal I/2026, segmen ini dipandang memiliki potensi besar.

"Perseroan menargetkan sertifikasi karbon di Kalimantan rampung pada kuartal IV/2026, sehingga bisnis perhutanan berkelanjutan ini diproyeksikan mampu berkontribusi minimal 10% terhadap pendapatan konsolidasi dalam dua tahun ke depan," tuturnya.

Terkini