Studi Ungkap Diet Tanpa Gula Bisa Ganggu Kesehatan Usus

Kamis, 18 Juni 2026 | 02:30:01 WIB
Ilustrasi - Seorang yang diet dengan mengurangi gula. (Foto: NET)

JAKARTA – Banyak orang meyakini bahwa langkah terbaik untuk menjaga kesehatan adalah dengan berhenti mengonsumsi gula sepenuhnya. Namun, sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa diet tanpa gula tidak selalu memberikan hasil positif seperti yang diharapkan.

Dalam pertemuan tahunan ENDO 2026 di Chicago, Amerika Serikat, dipaparkan studi yang mengungkap bahwa meniadakan sukrosa dari pola makan rendah lemak justru berisiko memicu masalah pada metabolisme dan usus. Temuan tersebut telah dirilis oleh The Endocrine Society pada 14 Juni 2026.

Peneliti dari Dasman Diabetes Institute, Kuwait, melakukan observasi selama 16 minggu terhadap dua kelompok tikus. Kelompok pertama diberikan diet rendah lemak tanpa sukrosa, sementara kelompok kedua mengonsumsi diet rendah lemak yang tetap mengandung sukrosa.

Hasil evaluasi terhadap toleransi glukosa, sensitivitas insulin, hormon metabolik, mikrobioma usus, hingga peradangan pada hati dan usus besar menunjukkan temuan menarik. 

Tikus yang menjalani diet tanpa sukrosa mengalami kondisi kesehatan yang lebih buruk meski berat badannya serupa dengan kelompok kontrol. Masalah tersebut meliputi resistensi insulin, kontrol gula darah yang menurun, ketidakseimbangan bakteri usus, peradangan saluran pencernaan, hingga gejala penyakit hati berlemak.

Kepala Departemen Imunologi dan Mikrobiologi Dasman Diabetes Institute, Rasheed Ahmad, PhD, menyatakan bahwa penghentian total asupan sukrosa pada diet rendah lemak dapat membawa dampak tak terduga.

"Menghilangkan sukrosa sepenuhnya dari diet rendah lemak secara tak terduga dapat mengganggu kesehatan usus dan memicu peradangan serta gangguan metabolisme," ujar Ahmad.

Ahmad menegaskan bahwa keseimbangan nutrisi jauh lebih krusial dibandingkan hanya sekadar menghindari gula. Kesehatan metabolik tidak hanya bergantung pada kuantitas gula, tetapi juga pada kondisi mikrobioma usus yang menjaga fungsi organ tubuh.

Penelitian ini mendapati perubahan komposisi mikrobiota usus pada kelompok yang tidak mengonsumsi sukrosa, yang diduga berkontribusi terhadap peradangan dan gangguan metabolik.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghapusan sukrosa secara total dari diet rendah lemak dapat berdampak negatif pada mikrobiota usus dan kesehatan metabolik," tambah Ahmad.

Ia menekankan bahwa tubuh membutuhkan keseimbangan karbohidrat guna mempertahankan stabilitas sistem imun dan kesehatan usus. Ahmad menyarankan agar rekomendasi pola makan di masa depan tidak hanya terpaku pada pembatasan gula, melainkan lebih menekankan pentingnya menjaga kesehatan mikrobioma usus.

Temuan ini diharapkan dapat membantu merancang strategi pencegahan penyakit metabolik serta peradangan kronis yang lebih efektif. Meski begitu, peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini bukan berarti konsumsi gula berlebih menjadi tindakan aman.

Direktur Jenderal Sementara Dasman Diabetes Institute, Faisal Hamed Al-Refaei, MD, menyatakan bahwa pemahaman tentang penyakit metabolik perlu diperdalam. 

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kesehatan ditentukan oleh keseimbangan nutrisi secara menyeluruh, bukan sekadar menghindari satu jenis bahan makanan. Karena itu, strategi menjaga kesehatan sebaiknya berfokus pada keberagaman dan keseimbangan asupan nutrisi harian.

Terkini