Jaga Batasan Sosial demi Kesehatan Mental dan Awet Muda

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:40:31 WIB
Ilustrasi - Relasi Sehat dan Batasan Diri. (Foto: NET)

JAKARTA - Rutinitas sosial dan berbagai tanggung jawab harian kerap memberikan tekanan berat bagi kesehatan mental seseorang. Agar interaksi dengan lingkungan sekitar tidak berubah menjadi pemicu stres yang mempercepat penuaan, menentukan batasan personal yang tegas sangat krusial sebagai langkah proteksi diri.

"Aspek sosial itu yang sebenarnya perlu kami bangun terus, supaya kami punya healthy boundaries," kata psikolog klinis di Ibunda.id, Daniar Dhara Fainsya, M.Psi., Psikolog, dalam sesi talkshow bertajuk "Mental Health Sebagai Investasi Anti-aging Terbaik" di Ageless Festival, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).

Dengan demikian, intensitas interaksi yang tinggi dengan orang lain seharusnya membuat seseorang lebih peka dalam menentukan batasan yang diperlukan sebelum memicu beban pikiran.

Menyeimbangkan Aspek Sosial dan Hormon Cinta

Perawatan kesehatan mental memerlukan keselarasan dari empat elemen utama kehidupan secara berimbang. Keempat pilar tersebut meliputi faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual, sebagaimana dipaparkan oleh psikiater dr. Rayhan Maditra Indrayanto, Sp.KJ, dari Siloam Specialist Center Senayan.

Menurutnya, pemulihan kondisi mental tidak akan optimal jika seseorang hanya bertumpu pada pengobatan struktur anatomi maupun zat kimiawi di otak saja.

"Saya tidak percaya bahwa semua itu hanya di dalam otak kami," ucap dr. Rayhan.

Dalam ranah sosial, kehadiran lingkungan suportif dari sahabat atau kerabat yang tepercaya dapat memicu tubuh memproduksi hormon oksitosin dalam jumlah besar. 

Hormon yang kerap dijuluki hormon cinta ini dihasilkan oleh pria maupun wanita saat merasakan keamanan emosional bersama orang lain.

"Oksitosin ini dibuktikan sangat berkorelasi, berhubungan dengan regulasi dari sistem fight or flight," papar dr. Rayhan.

Melimpahnya kadar oksitosin ini berfungsi mengendalikan laju sistem Hypothalamic-Pituitary-Adrenal axis (HPA axis) yang mengatur respons terhadap ancaman agar tetap stabil. 

Dr. Rayhan menjelaskan bahwa hormon penenang ini mampu meredakan ketegangan saraf sebelum berdampak pada penurunan usia biologis seseorang.

Hambatan Batasan di Lingkungan Keluarga

Saat berada di usia produktif, tanggung jawab yang diemban seseorang kerap berlipat ganda dalam waktu bersamaan. 

Peran sosialnya pun meluas, tidak hanya seputar hubungan romantis dengan pasangan, tetapi juga mencakup kewajiban sebagai anak, cucu, hingga paman atau bibi di lingkaran keluarga besar.

Menghadapi pola perilaku negatif dari keluarga dekat sering kali menguras energi yang jauh lebih besar karena ikatan darah bersifat permanen.

"Itu kan kadang-kadang suka datang nih, klien-klien datang (mengatakan), 'Orangtua saya tuh toksik banget'," ungkap Daniar.

Untuk mengantisipasi kelelahan psikologis tersebut, Daniar mengarahkan pasiennya untuk memetakan jenis hubungan yang ada terlebih dahulu. Langkah ini berguna untuk menilai apakah pola interaksi tersebut masih mungkin diubah atau tidak.

Ia menambahkan bahwa seseorang tidak bisa memilih keluarga tempat ia dilahirkan. Kondisi inilah yang membuat upaya menegakkan batasan kaku dengan keluarga kandung sering kali terasa sangat berat dan menemui jalan buntu.

"Kalau kami memaksakan diri, 'Pokoknya boundaries kami harus seperti ini, orang lain juga harus menghormati'. Kalau dengan relasi yang memang tidak bisa dimodifikasi, memang agak challenging," terang Daniar.

Sebaliknya, lingkaran pertemanan maupun asmara memberikan kebebasan penuh bagi individu untuk menentukan prinsip dan standar sikap mereka sendiri tanpa perlu berkompromi.

Mendeteksi Sinyal Tubuh Sebelum Konflik

Ketidakmampuan mengubah batasan dengan keluarga inti sering kali memicu rasa frustrasi yang berujung stres. 

Karena tidak semua hubungan kekeluargaan bisa disesuaikan secara sepihak, potensi perbedaan pendapat atau ketersinggahan emosi antar-anggota keluarga hampir tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya.

Demi mengatasi kebuntuan tersebut sekaligus menghindari konflik yang menjurus pada tindakan destruktif seperti menyakiti diri, metode yang bisa diterapkan adalah dengan merasakan indikasi fisik saat tekanan psikologis mulai muncul.

"Apapun triggers itu, kami perlu mengenali dampak perubahan apa yang terjadi pada tubuh dan pikiran kami," ucap dr. Rayhan.

Saat perselisihan mulai memanas dengan keluarga, reaksi alam bawah sadar akan memberikan tanda fisik sebelum emosi mengambil alih logika. 

Gejala seperti napas yang tiba-tiba berat, detak jantung yang berakselerasi cepat, hingga pusing di kepala adalah alarm nyata agar seseorang segera menarik diri dan menyudahi perdebatan.

Kesadaran terhadap perubahan kondisi biologis ini memberikan ruang bagi otak untuk meredam luapan emosi. Menjauhkan diri untuk sementara waktu menjadi opsi tindakan yang paling realistis ketika menghadapi orang terdekat yang perilakunya berada di luar kendali kita.

"Cepat untuk mengambil langkah supaya bisa do something sebelum kami beneran melakukan hal yang akan kami sesali. Jangan sampai perbuatan kami itu akan membuat dampak yang permanen," pungkas dr. Rayhan.

Terkini