Strategi SDPC Kejar Target Pertumbuhan Double Digit Tahun 2026

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:20:01 WIB
PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC). (Foto: NET)

JAKARTA — Emiten distributor farmasi, PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC) menargetkan peningkatan kinerja dua digit pada tahun 2026. Langkah ini akan ditempuh melalui penguatan efisiensi operasional, digitalisasi, serta pembenahan tata kelola perusahaan, termasuk melalui perolehan sertifikasi ISO internasional.

Direktur Utama Millennium Pharmacon International, Imam Fathorrahman, menyatakan bahwa potensi distribusi farmasi di dalam negeri masih sangat luas, dengan estimasi nilai belanja obat melampaui Rp160 triliun setiap tahunnya. 

Namun, peluang ini dibarengi dengan kompetisi sengit di sektor distribusi farmasi yang melibatkan ratusan pelaku usaha. Menurutnya, kemampuan dalam mempertahankan kualitas layanan, efisiensi, serta menjaga kepercayaan prinsipal menjadi pembeda utama perusahaan.

"Kami bersama seluruh stakeholder menargetkan pertumbuhan double digit pada 2026. Kebutuhan pasar masih tinggi dan kami optimistis target tersebut dapat dicapai dengan memperkuat kapabilitas internal serta kualitas layanan," ujar Imam, Kamis (11/6/2026).

Optimisme ini diperkuat dengan keberhasilan MPI mempertahankan sertifikasi ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu dan ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan setelah melewati audit independen oleh lembaga sertifikasi internasional. 

Imam menegaskan bahwa sertifikasi ini bukan sekadar pemenuhan standar internasional, melainkan elemen strategis untuk meningkatkan daya saing perusahaan dalam jangka panjang.

"Bagi MPI, sertifikasi internasional bukan sekadar simbol kepatuhan, melainkan bukti nyata bahwa seluruh proses bisnis kami dijalankan secara profesional, terukur, dan berorientasi pada kepercayaan pelanggan," katanya.

Di sisi lain, penguatan tata kelola dinilai semakin krusial mengingat industri kesehatan menuntut standar kepatuhan yang ketat serta transparansi dalam rantai distribusi. MPI juga terus mendorong transformasi digital, otomasi proses bisnis, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) guna mendongkrak produktivitas dan efisiensi.

Direktur MPI, Mohamad Fazly Bin Hassan, menambahkan bahwa penerapan sistem yang terdokumentasi via standar ISO diharapkan mampu meningkatkan efektivitas manajemen gudang dan inventori, serta memperbaiki akurasi perencanaan distribusi dan pengendalian stok. 

Perusahaan membidik efisiensi biaya operasional sekitar 5% sebagai langkah peningkatan profitabilitas.

"Target efisiensi kami sekitar 5% dari total OPEX. Namun sertifikasi ISO bukan satu-satunya faktor. Ini bagian dari strategi yang lebih besar yang mencakup digitalisasi, penguatan tata kelola, dan optimalisasi proses bisnis," ujarnya.

Selain fokus pada efisiensi, MPI terus memperluas peluang pertumbuhan melalui pengembangan portofolio dan ekspansi jaringan. Saat ini, perseroan mengoperasikan 37 cabang di berbagai kota strategis dan melayani lebih dari 30 prinsipal farmasi, alat kesehatan, serta produk kesehatan lainnya.

Imam optimistis kebutuhan distribusi farmasi akan terus meningkat selaras dengan perkembangan layanan kesehatan nasional. Perusahaan yang mampu menjaga kualitas distribusi, integritas, dan efisiensi akan memiliki posisi lebih kuat dalam memenangkan persaingan.

"Kami ingin memastikan pertumbuhan perusahaan selalu dibangun di atas kualitas, kepatuhan, dan integritas yang berkelanjutan. Itu menjadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan prinsipal, pelanggan, investor, dan seluruh pemangku kepentingan," kata Imam.

Berdasarkan laporan keuangan, SDPC mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,11 triliun pada tahun 2025 dengan laba bersih Rp38,5 miliar. Angka pendapatan ini tumbuh 4,93% secara tahunan dari Rp3,91 triliun, sementara laba bersih melonjak 127,24% dari Rp16,92 miliar. 

Adapun pada kuartal I/2026, SDPC membukukan pendapatan Rp1,01 triliun, naik 3,85% dari Rp980 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan laba bersih sebesar Rp10,10 miliar atau terkoreksi tipis 2,22% dibandingkan tahun lalu.

Terkini