KAI Perkuat Kesiapan Hadapi Lonjakan Mudik Lebaran

Jumat, 13 Februari 2026 | 16:25:15 WIB
KAI Perkuat Kesiapan Hadapi Lonjakan Mudik Lebaran

JAKARTA - Pergerakan masyarakat menjelang Idulfitri selalu membawa dinamika tersendiri pada moda transportasi kereta api. 

Lonjakan permintaan perjalanan jarak jauh diperkirakan kembali terjadi seiring meningkatnya mobilitas tahunan. Kesiapan layanan menjadi kunci agar perjalanan mudik berjalan aman dan nyaman.

PT Kereta Api Indonesia memproyeksikan puncak arus mudik pada masa Angkutan Lebaran 2026 terjadi pada 18 Maret 2026. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa masa Angkutan Lebaran berlangsung selama 22 hari. Periode layanan dimulai 11 Maret hingga 1 April 2026 dengan posko operasional pada 14–29 Maret 2026.

Puncak arus mudik tersebut berdekatan dengan libur Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026. Kondisi ini diperkirakan memicu peningkatan pergerakan penumpang dalam waktu yang bersamaan. Arus balik diproyeksikan terjadi pada 24 Maret 2026 seiring berakhirnya cuti bersama Idulfitri.

Proyeksi Lonjakan Penumpang

Data pemesanan tiket menunjukkan minat masyarakat terhadap perjalanan kereta api tetap tinggi. Hingga 10 Februari 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 848.188 tiket kereta api reguler telah terjual. Angka ini mencakup periode keberangkatan 11–27 Maret 2026.

Skema penjualan bertahap H-45 mendorong distribusi permintaan agar lebih merata. Pola ini memberi ruang bagi calon penumpang untuk merencanakan perjalanan lebih awal. Ketersediaan kursi diharapkan tetap terjaga pada hari-hari puncak.

Tren penjualan yang bergerak positif mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta api. KAI memantau dinamika permintaan untuk mengantisipasi potensi lonjakan lanjutan. Penyesuaian operasional dilakukan agar arus mudik tetap terkendali.

Inspeksi Jalur Utara Jawa

Sebagai langkah preventif, KAI melaksanakan inspeksi lapangan melalui Kereta Api Inspeksi di jalur utara Pulau Jawa. Rangkaian inspeksi meliputi lintas Gambir, Cikampek, Cirebon, Tegal, hingga Semarang Tawang. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan prasarana dan kesiapan operasi.

Inspeksi juga mencakup pembinaan jajaran di beberapa daerah operasional utama. Fokusnya adalah memastikan standar keselamatan dan keandalan perjalanan terjaga. Temuan lapangan menjadi dasar perbaikan sebelum masa puncak mudik.

Koridor strategis yang dilalui KAIS meliputi Gambir, Cirebon, Semarang, Surabaya Pasar Turi, Jember, hingga Ketapang. Jalur ini menjadi tulang punggung perjalanan jarak jauh masyarakat. Kesiapan lintas diharapkan mendukung kelancaran mobilitas nasional.

Penguatan Keselamatan dan Keamanan

Selain kesiapan sarana, KAI memperkuat aspek keselamatan dan pengamanan di seluruh jaringan. Sebanyak 179 lokasi Daerah Pemantauan Khusus telah ditetapkan. Pemetaan juga dilakukan pada 217 titik rawan gangguan keamanan dan ketertiban.

Pengamanan didukung ribuan personel internal serta personel eksternal dari TNI dan Polri. Pemanfaatan teknologi seperti CCTV analytic, patroli jalur, dan drone diterapkan di titik rawan. Langkah ini bertujuan meminimalkan risiko selama masa angkutan Lebaran.

Pendekatan terpadu membantu mempercepat respons terhadap potensi gangguan operasional. Koordinasi lintas pihak memastikan kesiapan di lapangan tetap terjaga. Keselamatan pelanggan menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan operasional.

Konsolidasi Internal dan Layanan

Melalui inspeksi lapangan, KAI menyatukan persepsi dan soliditas seluruh insan perusahaan. Kesiapan teknis disertai penguatan koordinasi dengan para pemangku kepentingan. Tujuannya adalah menjaga keandalan perjalanan selama periode sibuk.

Upaya konsolidasi juga mencakup peningkatan kualitas layanan pelanggan. KAI memastikan prosedur operasional berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Komunikasi internal diperkuat agar respons terhadap dinamika lapangan lebih cepat.

Fokus utama tetap pada keselamatan, keandalan perjalanan, dan kenyamanan penumpang. Setiap unit kerja didorong untuk sigap menghadapi lonjakan mobilitas. Pendekatan ini diharapkan menjaga pengalaman perjalanan tetap positif.

Pembelajaran dari Lebaran Sebelumnya

Pengalaman Lebaran tahun lalu menjadi acuan dalam menyiapkan layanan tahun ini. Pada periode tersebut, KAI melayani lebih dari 4,5 juta pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal. Jumlah kapasitas tempat duduk yang disediakan mencapai jutaan kursi.

Distribusi kapasitas antara kereta jarak jauh dan lokal menjadi bagian dari strategi pengelolaan permintaan. Evaluasi operasional dilakukan untuk memperbaiki aspek yang masih perlu ditingkatkan. Pembelajaran ini memperkuat kesiapan menghadapi puncak mudik berikutnya.

Dengan fondasi pengalaman tersebut, KAI menyiapkan langkah antisipatif yang lebih terstruktur. Optimalisasi prasarana, sarana, dan sumber daya manusia terus dilakukan. Harapannya, perjalanan mudik Lebaran 2026 dapat berlangsung lebih aman, andal, dan nyaman bagi masyarakat.

Terkini