BEI dan OJK Perkuat Transparansi Demi Kepercayaan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 15:11:56 WIB
BEI dan OJK Perkuat Transparansi Demi Kepercayaan Investor

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan bersiap menggelar pertemuan strategis dengan Morgan Stanley Capital International dalam waktu dekat. 

Pertemuan tersebut dirancang berlangsung secara virtual dan menjadi bagian dari agenda penting penguatan pasar modal nasional. Dialog ini diposisikan sebagai langkah lanjutan untuk memastikan standar pasar Indonesia sejalan dengan praktik global.

Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa pertemuan akan dihadiri oleh jajaran internal BEI bersama tim yang telah ditunjuk. Dari sisi regulator, perwakilan OJK juga dijadwalkan ikut serta dalam diskusi tersebut. 

Kehadiran kedua otoritas diharapkan mampu menyatukan pandangan dalam merespons berbagai masukan yang disampaikan MSCI.

Agenda pembahasan difokuskan pada isu-isu krusial yang berkaitan langsung dengan klasifikasi pasar modal Indonesia. MSCI selama ini dikenal memiliki kriteria ketat dalam menilai keterbukaan dan likuiditas pasar. Oleh karena itu, pertemuan ini dinilai strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di mata investor global.

Transparansi Data Investor Jadi Fokus Utama

Salah satu poin utama yang akan dibahas adalah tuntutan MSCI terkait transparansi data investor. BEI berencana membuka akses data kepemilikan investor, khususnya yang berada di bawah ambang batas lima persen. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan keterbukaan informasi dan memperkuat kepercayaan pasar.

Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa penerapan transparansi data tersebut akan mulai dilakukan pada Februari. Data kepemilikan investor akan ditampilkan secara terbuka melalui laman resmi BEI. Dengan demikian, seluruh pihak dapat mengakses informasi yang sebelumnya bersifat terbatas.

Langkah ini diharapkan mampu menjawab kekhawatiran MSCI terkait visibilitas struktur kepemilikan saham. Transparansi dinilai sebagai fondasi penting dalam menciptakan pasar yang adil dan efisien. Selain itu, kebijakan ini juga menjadi sinyal positif bagi investor institusional global.

Penyesuaian Ambang Batas Free Float

Selain transparansi data, MSCI juga menyoroti rencana peningkatan ambang batas free float. BEI tengah menyiapkan proses kenaikan free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas saham di pasar.

Proses penyesuaian free float akan dimulai dengan tahapan penyusunan dan perubahan aturan pencatatan. Tahap rule making menjadi bagian penting untuk memastikan kebijakan berjalan terstruktur dan terukur. BEI menegaskan bahwa seluruh proses akan mengikuti mekanisme yang berlaku.

Target penyelesaian proses ini diharapkan dapat tercapai sebelum tenggat waktu yang ditetapkan MSCI. Penyelarasan aturan free float menjadi elemen penting dalam penilaian aksesibilitas pasar. Dengan likuiditas yang lebih baik, pasar modal diharapkan semakin atraktif bagi investor.

Harapan Penyelesaian Sebelum Tenggat

BEI menaruh harapan besar agar seluruh proses dapat rampung sebelum Mei 2026. Tenggat waktu tersebut menjadi batas evaluasi yang ditetapkan oleh MSCI. Oleh karena itu, koordinasi antara BEI dan OJK terus diperkuat.

Sinergi antarotoritas dinilai krusial untuk mempercepat implementasi kebijakan. Setiap tahapan dirancang agar tidak mengganggu stabilitas pasar yang sudah berjalan. Pendekatan bertahap dipilih untuk meminimalkan potensi risiko.

Keberhasilan memenuhi tenggat waktu akan menjadi indikator kesiapan pasar modal Indonesia. Hal ini juga mencerminkan komitmen regulator dalam merespons dinamika global. Dengan demikian, posisi Indonesia di indeks global diharapkan semakin solid.

Optimisme Terhadap Stabilitas Pasar

Di tengah agenda penting tersebut, BEI tetap menaruh optimisme terhadap kondisi pasar. Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa saat ini tidak terdapat persoalan fundamental yang mengganggu bursa. Investor pun diimbau untuk tetap bersikap rasional dalam mengambil keputusan.

Meskipun enggan berkomentar mengenai pergerakan indeks ke depan, BEI menilai fondasi pasar tetap kuat. Stabilitas sistem dan kepercayaan investor menjadi prioritas utama. Kebijakan yang ditempuh diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan ketahanan pasar.

Dengan langkah-langkah yang disiapkan, pasar modal Indonesia diharapkan semakin kredibel. Transparansi, likuiditas, dan tata kelola menjadi pilar utama penguatan pasar. Upaya ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan investasi yang berkelanjutan.

Terkini

Nuklir Jadi Pilar Strategis Kemandirian Energi Nasional

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

Kilang Balongan Perkuat Distribusi Energi Nasional Terpadu

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

OPEC Plus Pertahankan Produksi Demi Keseimbangan Minyak

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

Program MyPertamina Fair Dorong Loyalitas Konsumen BBM

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:58 WIB