Kebijakan Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat Dorong Pendidikan Teknologi Nasional

Senin, 02 Februari 2026 | 08:43:24 WIB
Kebijakan Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat Dorong Pendidikan Teknologi Nasional

JAKARTA - Arah pembangunan pendidikan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan penekanan yang lebih tajam pada penguasaan teknologi. 

Melalui kebijakan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, pemerintah berupaya menjawab tantangan ketertinggalan bangsa sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tengah dominasi teknologi global.

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menilai dua kebijakan tersebut mencerminkan visi yang jelas dan spesifik. Menurutnya, fokus utama kebijakan ini bukan sekadar pemerataan akses pendidikan, tetapi juga percepatan penguasaan teknologi terapan yang dibutuhkan Indonesia di masa depan.

Menjawab Ketertinggalan di Tengah Persaingan Global

Abdul menyoroti bahwa banyak negara maju telah jauh melangkah dalam pengembangan industri berbasis teknologi. Amerika Serikat dan China, kata dia, menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan teknologi dan engineering telah menjadi fondasi kemajuan ekonomi dan industri.

Ia menyebut, keunggulan teknologi kedua negara tersebut kini dapat dirasakan langsung di Indonesia, salah satunya melalui maraknya kendaraan listrik yang diproduksi di luar negeri dan kini mengisi jalanan Jakarta.

“Negara-negara lain sekarang, Amerika atau China, luar biasa. Ratusan ribu anak-anak China sekolahnya teknologi dan engineering. Jadi siap-siap, makanya anak-anak nanti tidak bisa kemudian bermain gim terus,” kata Abdul di Jakarta, Minggu.

Menurutnya, Indonesia tidak bisa lagi menunda transformasi pendidikan jika ingin mengejar ketertinggalan. Perubahan orientasi pendidikan menuju penguasaan teknologi menjadi kebutuhan mendesak agar generasi muda siap menghadapi persaingan global.

Pendidikan Tetap Prioritas di Tengah Isu Pertahanan

Di tengah sebagian keraguan publik yang menilai pemerintahan baru terlalu menitikberatkan perhatian pada sektor pertahanan, Abdul menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) tetap menjadi agenda utama. Ia menilai perbedaan hanya terletak pada pendekatan yang digunakan dibandingkan pemerintahan sebelumnya.

Melalui Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, Presiden Prabowo dinilai ingin mengubah orientasi pendidikan nasional agar tidak hanya berfokus pada aspek teoritis, tetapi juga penguasaan teknologi terapan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menjadi penggerak inovasi dan teknologi di dalam negeri.

Sekolah Rakyat untuk Kelompok Prasejahtera

Abdul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang secara khusus untuk menyasar masyarakat prasejahtera. Program ini tidak hanya berdimensi pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari pendekatan pengentasan kemiskinan yang dilakukan secara lintas sektor.

“Sekolah Rakyat leading sector-nya bukan Kemendikdasmen, tetapi Kementerian Sosial. Kenapa? Karena pendekatannya kemiskinan,” katanya.

Dengan keterlibatan Kementerian Sosial sebagai sektor utama, Sekolah Rakyat diharapkan mampu menjangkau anak-anak dari keluarga tidak mampu yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas. Program ini mengintegrasikan pendidikan dengan skema bantuan sosial agar anak-anak dari kelompok rentan tidak terputus dari pendidikan.

Menurut Abdul, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat pendidikan sebagai urusan akademik, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Sekolah Garuda sebagai Inkubator Talenta Unggul

Berbeda dengan Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda disiapkan sebagai wadah pembinaan bagi siswa-siswa berbakat. Program ini dirancang untuk menjadi inkubator talenta unggul yang diproyeksikan mampu menembus perguruan tinggi kelas dunia.

Sekolah Garuda akan berada pada jenjang setara SLTA, baik SMA maupun SMK, dengan fokus utama pada penguatan sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Konsepnya tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung langsung dengan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.

“Sekolah Garuda setingkat SLTA, SMA, atau SMK, terhubung dengan perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, agar anak-anak pintar bisa tersambung langsung dengan pendidikan tinggi,” ujarnya.

Menurut Abdul, model ini diharapkan dapat mempercepat lahirnya generasi unggul yang siap menjadi ilmuwan, insinyur, dan inovator teknologi. Dengan jalur pendidikan yang terintegrasi sejak dini, siswa berbakat tidak kehilangan momentum dalam mengembangkan potensinya.

Ajakan Kolaborasi untuk Pendidikan Nasional

Menutup pernyataannya, Abdul mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya memandang kebijakan pemerintah dari sisi kritik semata. Ia menilai keberhasilan transformasi pendidikan membutuhkan kolaborasi luas antara pemerintah, DPR, dunia pendidikan, serta masyarakat.

Menurutnya, Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda merupakan langkah awal yang memerlukan dukungan bersama agar tujuan besar pembangunan SDM berbasis teknologi dapat tercapai. Tanpa keterlibatan aktif publik, visi tersebut sulit diwujudkan secara optimal.

Abdul berharap masyarakat dapat berperan aktif, baik melalui dukungan kebijakan, pengawasan, maupun kontribusi nyata dalam memajukan pendidikan nasional. Dengan kolaborasi yang kuat, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengejar ketertinggalan dan membangun fondasi pendidikan teknologi yang kokoh bagi generasi mendatang.

Terkini

Nuklir Jadi Pilar Strategis Kemandirian Energi Nasional

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

Kilang Balongan Perkuat Distribusi Energi Nasional Terpadu

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

OPEC Plus Pertahankan Produksi Demi Keseimbangan Minyak

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:59 WIB

Program MyPertamina Fair Dorong Loyalitas Konsumen BBM

Senin, 02 Februari 2026 | 18:28:58 WIB